Kembali Ke Lapangan

Sudah empat tahun lebih aku tidak menginjakan kaki di lapangan. Dua tahun adalah pandemi dan tahun-tahun sebelumnya adalah tahun yang rumit bagiku. Setelah ajakan seorang teman, aku berniat untuk kembali ke lapangan.

Sadar diri sudah terlalu lama tidak bermain, akupun berniat mengembalikan kebugaran menjelang hari bermain. Beberapa hari selepas subuh aku melakukan stretching lebih lama. Alasannya jelas, aku mencoba membuat tubuh beradaptasi dengan gerakan yang lebih banyak. Harapannya aku akan baik-baik saja saat bermain dan setelah bermain.

Aku mengalami lewah pikir soal ini. Aku cemas dan khawatir. Cemas apakah aku akan baik-baik saja, khawatir apakah aku mampu kembali ke lapangan. Kalau aku kelelahan bagaimana? Kalau aku tidak kuat bermain bagaimana? Belum lagi aku harus membuka masker saat bermain, apakah kita sudah cukup aman untuk lebih banyak berinteraksi tanpa masker? aah aku jadi banyak berfikir macam-macam.

Beberapa jam menjelang bermain, saat aku menulis ini, aku masih diselimuti rasa khawatir. Entah nanti akan benar-benar kembali bermain atau tidak. Yang jelas aku sedang berusaha menata ini, untuk kembali beraksi.

***

Kembali ke lapangan.

Setelah berdamai dengan rasa cemas, akhirnya tiba juga di lapangan. Kedatanganku terlambat dari jam seharusnya. Sesampainya di sana aku melihat wajah-wajah yang tidak asing menyapa. Wajah-wajah yang dulu pernah berjuang bersama untuk jadi juara. Iya, dulu kami pernah berjuang di lapangan, ceritanya ada di tulisan yang ini.

“Gilaak…” Tidak menyangka aku akan kembali ke sini. Bukan main rasanya. Aku kembali melihat lapangan dan jaring-jaring pembatasnya. Apakah aku grogi? tentu saja! aku seperti seseorang yang baru memulai hal ini. Banyak tawa dan canda yang sudah lama tidak aku jumpai.

Aku memulai persiapan bermain, memakai setelan seragam yang baru semalam dikeluarkan dari lemari. Saking lamanya nggak main, kumpulan seragam futsalku entah di mana. Ah…rasanya luar biasa dan ingin segera masuk lapangan.

Permainan pertamaku sejak ribuan hari berlalu. Aku tampak kewalahan menangani nafasku. Sudah pasti ngos-ngosan luar biasa. Aku berusaha lebih santai dengan mengatur tempo nafas, sambil mencoba memikirkan pergerakan badan. Namun tidak bisa dipungkiri; masa hiatus yang lama membuat pola nafas dan gerak tubuh tidak lagi segemulai dahulu. Boleh dibilang pikiranku tidak lagi sama dengan pergerakanku.

Aku sudah berjanji tidak akan memaksa bermain. Sampai di lapangan saja aku sudah sangat bahagia, apalagi bisa berlari mengolah bola. Itu sudah fantastis! Untungnya sebagian teman yang lain juga sudah lama tidak bermain, jadi bisa dibilang sebelas duabelas lah kelelahannya.

Aku menyadari akan muncul kelelahan setelah ini. Akan muncul pegal-pegal disana-sini. Tapi aku tidak mau memikirkannya dulu. Aku hanya ingin bermain dan menikmati ini. Tidak lama aku bermain, aku istirahat karena sudah cukup lelah. Aku pikir sudah cukup bermainnya, namun ternyata aku masih punya kesempatan bermain di akhir-akhir waktu.

Senang bisa kembali bermain. Walau mungkin sentuhanku tak lagi seperti dulu, namun kembali untuk sebuah kesenangan sudah lebih dari cukup bagiku.

Ada rasa haru hari itu. Aku kembali dengan tubuh yang penat, namun dengan hati yang penuh hangat. Terima kasih teman, terima kasih untuk kamu yang telah memberiku dukungan hebat.

Sampai bertemu kembali di lapangan.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.