Berawal dari pelihara ikan hias di aquarium, aku ingin menantang diri untuk memelihara ikan yang bisa dikonsumsi. Kebetulan aku punya sebuah tandon 350ml yang tidak terpakai, dari pada cuma nganggur, ngide dong mau pelihara ikan di dalam situ. Siapa tahu penemuan dan pengalaman. Ya ampun ada-ada saja yak.

Jadilah suatu Minggu di akhir Agustus aku mengajak mereka ke pasar ikan untuk kulakan anakan. Oh ya, dalam perjalanan itu aku meminta Ai untuk take video perjalanan yang aku gunakan di video gitaran Asmalibrasi.

Baru pada tahap beli bibit ikan, aku sudah mendapatkan pengalaman baru. Ternyata beli anakan ikan di pasar yang aku kunjungi ini bukan dihitung per ekor ataupun kiloan. Tapi beli nya per cangkir! Whaatt??? Iya pakai cangkir! Aku sempat kaget dong waktu mendapatkan jawaban dari penjual, “ini harganya per cangkir, mas”.

Continue reading

Kamu bisa saja punya ide, bisa punya rencana, ataupun bisa punya keinginan. Tapi perihal menjalankan ide itu adalah hal berbeda.

Yak! Bukan perkara mudah untuk menjalankan ide dan menyusunnya dalam kerangka yang dikerjakan. Bisa punya ide ini itu, pengen begini begitu. Tapi perkara menjalankan ide itu sebenarnya adalah hal lain. Ada yang bilang; harus ada yang “dikorbankan” ketika memilih menjalankan atau berkomitmen pada suatu ide. Tapi alih-alih mengorbankan, bagaimana kalau diksi tersebut kita ganti aja dengan kata yang lain? misalnya kita pakai kata “disesuaikan” saja ya?

Jadi, ketika mau menjalankan sebuah ide atau keinginan, maka ada kondisi yang harus disesuaikan untuk mewujudkannya, tentu saja disesuaikan untuk mendukung rencana tersebut. Nah terdengar lebih baik kan?

Continue reading

Pada suatu hari aku ingin membuat sticker WhatsApp (ciyeeh pembukaan udah kayak cerpen aja). Sejauh yang aku tahu; cara membuat sticker di WA adalah dengan bantuan aplikasi lain. Ada banyak jenis aplikasi tersedia di Playstore untuk membantu pengguna dalam membuat sticker.

Aku termasuk orang yang cukup selektif jika harus menginstall aplikasi di android milikku. Bukan kenapa-kenapa sih, aku cuma malas saja kalau harus install aplikasi lain sebelum aplikasi itu benar-benar aku inginkan.

Beralasankan kemalasan tersebut, aku mencari cara untuk membuat sticker secara online. Ehh ternyata ada sebuah website yang bisa membantu membuat sticker secara online. Wah keren nih.

Continue reading

Setelah hampir dua tahun lebih bertahan untuk tidak, bertahan untuk menjalankan prokes cukup ketat, bertahan untuk menjadi survival. Pada akhirnya aku juga terkena Covid-19. Terinfeksi disaat orang-orang sudah mulai lupa, disaat orang mulai membuka masker di tempat umum. Disaat orang-orang mulai banyak aktivitas di luar. Disaat semua semakin absurb soal virus ini.

Iya, ini adalah cerita pengalamanku yang terinfeksi Covid-19. Mungkin tidak sama dengan apa yang kamu rasakan, mungkin tidak separah yang kamu alami, mungkin juga lebih parah dari yang kamu rasakan. Yang jelas, tidak ada individu yang ingin mengalami kemurungan.

Agak lucu memang saat mengetahui lho kok aku kena covid ya. Siapa yang mengira kalau akhirnya kena covid saat virus ini sudah ngga lagi ngehits. Kalau kata temanku itu “Wis ora usum kok kowe malah keno” ( Udah ngga jamannya covid kok kamu malah terkena covid) haha begitu kira-kira canda kami.

Continue reading

Kira-kira sudah satu bulan adik ipar menikah. Dia adalah anak perempuan kedua dari tiga bersaudara yang juga perempuan. Satu bulan ini pula bapak ibu ditinggal oleh anak perempuan kedua mereka yang sejak kecil belum pernah pergi jauh dari mereka.

Menurut cerita, bapak punya kebiasaan tidur berpindah-pindah dari kamar satu ke kamar lainnya. Terutama mungkin pada saat tidur siang hari kali ya. Namun semenjak anak keduanya ditimang seorang pria yang tinggalnya jauh dari beliau, bapak belum pernah tidur di kamar yang ditinggalkan anaknya itu. Katanya sih masih belum tega gitu, masih suka teringat ketika sang anak di rumah.

Continue reading

Sudah empat tahun lebih aku tidak menginjakan kaki di lapangan. Dua tahun adalah pandemi dan tahun-tahun sebelumnya adalah tahun yang rumit bagiku. Setelah ajakan seorang teman, aku berniat untuk kembali ke lapangan.

Sadar diri sudah terlalu lama tidak bermain, akupun berniat mengembalikan kebugaran menjelang hari bermain. Beberapa hari selepas subuh aku melakukan stretching lebih lama. Alasannya jelas, aku mencoba membuat tubuh beradaptasi dengan gerakan yang lebih banyak. Harapannya aku akan baik-baik saja saat bermain dan setelah bermain.

Continue reading

Setelah berpuasa sebulan lamanya, Bagaimana lebarannya? lebaran tahun ini teras berbeda yah. Dua tahun lalu aku mencatat lebaran yang sangat berbeda di tulisan ini. Alhamdulillah tahun ini lebaran sudah lebih riuh ramai. Sudah boleh ada acara mudik, sudah boleh beribadah dengan rapat, sudah boleh berkunjung sana-sini. Dan yang jelas, sekarang ini kita sudah bisa sedikit menurunkan rasa khawatir soal pandemi. Semoga saja bumi semakin terus membaik dan normal kembali ya.

Lebaranku juga berbeda. Tahun ini aku bisa berkumpul lengkap dengan keluarga. Bersama orang tua, bersama saudara kandung dan keluarga besar lainnya. Alhamdulillah diberi kesempatan dan sehat.

Apa acara lebaran? Sudah jelaslah ya, makan-makan, kumpul ngobrol haha hihi, melihat orang tua ngemong cucunya alias anak-anaknya anak mereka. Poto-poto hore hingga poto studio yang agak seriusan pun dilakoni. Tak lupa saling maaf-memaafkan yang biasanya berderai air mata dan tawa. Haha

Selain lebaran sudah bisa dikatakan seperti normal. Lebaranku ini pun bertambah berbeda karena lima hari setelah idul Fitri, keluarga mengadakan hajatan pernikahan adik, ia adalah tantenya anak-anak. Masih dalam suasana lebaran kami harus switch mode untuk acara yang membahagiakan itu.

Continue reading

Baik adalah seorang pria berperawakan tinggi, kurus, berkulit sawo matang dan berambut sedikit keriting. Baik adalah sosok yang rajin, ia tidak pernah mengeluh dan selalu melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Baik memiliki keinginan sederhana, yakni hidup baik, nyaman dan tentram.

Baik bukanlah seorang yang cukup beruntung pada masa kecilnya. Saat berusia 10 tahun, ia telah ditinggal ibunya. Baik tumbuh besar bersama bapaknya di tepian pantai, di sebuah gubuk kecil tua bersama dua adik perempuannya. Keluarga mereka sangat jauh dari kata berada.

Bapaknya adalah seorang nelayan yang pergi melaut pada malam hari dan kembali lagi di pagi hari. Selama ditinggal bapaknya, Baik harus merawat kedua adiknya, seraya berdoa agar bapaknya pulang dengan selamat pada pagi harinya.

Tempat berteduh mereka hanyalah sebuah gubuk kecil dengan sekat triplek, berlantaikan tanah dan beratapkan daun kelapa. Hanya ada tiga ruangan di gubuknya. Satu ruangan untuk tidur, satu lagi untuk kamar mandi dan satunya adalah ruangan untuk segalanya. Di ruangan yang terakhir itu semua kegiatan dilakukan; memasak, duduk-duduk, atau menyimpan barang, ya apapun itulah semua di sana.

Continue reading

Punya tahi lalat kan? Sepertinya semua orang punya ya, entah di mana posisinya atau besar kecilnya.

Aku mau cerita soal tahi lalat yang ada di tubuhku. Aku punya tahi lalat yang cukup besar di wajah, di atas bibir sebelah kiri. Ukurannya kira-kira selingkar ujung jari kelingkingmu. Ukuran yang menurutku besar untuk sebuah tanda tubuh di wajah, ya bisa disebut tompel. Aku ngga tahu perbedaan keduanya dan kenapa dibedakan, ah mungkin hanya soal penyebuatannya saja ya.

Waktu aku kecil, jelas ukurannya lebih kecil, lalu membesar seiring tubuh yang juga membesar. Sebenarnya ada tahi lalat lainnya di wajah, ukuran lebih kecil tersebar di beberapa tempat seperti hidung dan pipi.

Continue reading

Ini adalah live bloging.

Selepas mengantar Aila sekolah, aku mampir untuk membeli bubur ayam. Walaupun sudah cukup sering menyantapnya, ini adalah kali pertama aku membelinya sendiri. Maklum, biasanya lebih sering dibelikan. Hehe

Walau cuma menggunakan gerobak di pinggir jalan, warung ini laris pembeli. Buka pukul tujuh pagi dan biasanya tidak perlu waktu lama buburnya habis diserbu para pembeli. Kamu perlu sabar untuk menunggu antrian, karena bubur diracik oleh satu orang ibu-ibu (anggap saja ibu barokah) secara satu per-satu.

Ketika aku datang, kira kira aku mengantri sekitar 8 orang di depanku, tapi itu hanyalah mitos saja. Karena antrian tidak sistematis jelas terkadang diserobot mak emak (simbah) atau bapak-bapak yang antree aja pakai ngerokok, hih!

Aku pikir inilah Indonesia. Soal antree saja belum bisa tertib. Sebuah kemewahan yang tidak bisa dijumpai di negara tertib, ya kan? (eh belum pernah ke negara lain ding ya, semoga ada kesempatan nantinya).

Seorang bapak-bapak pesepeda tiba-tiba membelokan tunggangannya ke warung ini. Tidak lama kemudian sebuah mangkok berisi bubur lengkap diberikan padanya. Lho lho bapak ini mengantri dari mana? Kok tiba-tiba langsung dapat semangkok bubur siap santap? Hehe.

Kurang lebih 40 menit akhirnya tiba gilaran ku. Yey! Bubur ini harganya lima ribu perak, rasanya enak karena memang enak dan antreenya yang sangat kearifan lokal…hehe

Dah ya, buburku udah jadi dan mau pulang untuk menyantap.

Selamat berakhir pekan,…

“dan terjadi lagi….kisah lama yang terulang kembali…”

Yes.. yes…itu penggalan lirik lagu “separuh aku” dari Noah. Saking ikoniknya lirik ini, aku yakin kamu melantunkan nadanya saat membaca lirik tersebut. Eh eh tapi kalau kamu kenal lagu ini ding hehe :).

***

Setelah sempat landai bahkan sangat landai, kini virus yang viral (Cov-19) kembali di lingkaranku. Konon sih ini adalah Third Wave atau gelombang ketiga. Yah apapun itu, kondisi ini mengingatkanku saat gelombang-gelombang sebelumnya. Di mana aku cukup khawatir atau sangat khawatir dengan kondisi penyebaran virus yang semakin mendekat.

Kali ini sepertinya aku tidak bisa menghidar dari keberadaan virus yang mulai menggerus sekelilingku. Perlahan tapi pasti beberapa kawan dan kolega mulai terinfeksi. Akupun harus siap untuk menjalani uji penyaringan (screening) guna berkontribusi dalam pemutusan rantai penyebaran virus.

Bagi orang yang punya hubungan baik dengan cemas, ini bukanlah perkara mudah. Ada rasa yang tiba-tiba muncul kembali, “khawatir” adalah salah satu yang muncul dengan seenaknya. Ia datang seenaknya! menggerogoti pagar yang selama ini dibangun perlahan untuk menguatkan diri.

Saat ini aku hanya berharap bisa melalui ini, apapun itu, mengikuti uji penyaringan, menghadapi hasil atau kejadian terburuk, bahkan mampu berangkat saja aku sudah sangat senang. Semoga ya!

Tetap sehat-sehat ya kamu…

*ditulis minggu malam, dan besok adalah senin*

Setelah memulai tahun ini dengan tulisan MacOS itu, aku belum menuliskan apapun lagi sampai-sampai bulanpun sudah berganti. Sebenarnya bukan tidak punya cerita yang layak untuk disimpan di sini. Hanya saja aku merasa terlalu banyak rentetan kejadian di awal tahun ini yang membuatku perlu waktu untuk menceritakannya kembali.

Pagi ini saat aku membangunkan tidurnya kekasihku, mbak Aila. Aku menyinggung “Pengalaman dia yang beberapa hari lalu menjalani swab antigen.”, Itu adalah pengalaman pertamanya, dan katanya sih sakit. Aku coba memunculkan sebuah ide padanya; Bagaimana kalau pengalaman itu dituliskan sebagai sebuah cerita di bukunya? Sambil aku tawarkan ide lainnya. “Mbak Aila mau dibuatkan blog website? nanti bisa nulis di blog itu sambil belajar mengetik di papan keyboard. Bagaimana? Dia hanya menjawab dengan “eemmhh”, maklum dia baru bangun dari tidurnya. Hehe.

Awal tahun ini cukup berwarna dan waw banyak kejutan. Yang jelas semua kejadian apapun itu adalah hal baik, Alhamdulillah. Salah satu yang mengejutkan adalah Adik ipar yang makbedunduk memasuki proses persiapan untuk melepas masa lajangnya. Setelah sekian ribu hari, akhirnya dia berada di fase ini. Tentu dong semua orang berbahagia, namun jelas agenda ini membuat cukup riweuh. Mulai dari proses ini itu dan persiapan ini itu.

Continue reading

Sudah hampir satu bulan ini aku menggunakan macOS untuk daily working at home. Dan di tulisan ini aku akan bercerita tentang bagaimana pengalamanku menggunakannya sebagai lingkungan baru dalam berkarya.

Ceritanya berawal dari sebuah pekerjaan pada akhir tahun kemarin yang membuatku meminang sebatang Macbook. Memang sih aku punya rencana untuk meningkatkan (upgrade) laptop untuk keperluan berkarya. Apalagi semenjak kesayanganku Ai sekolah di rumah, laptop cukup sering digunakan untuk keperluaannya. Jadi sepertinya aku perlu menambah satu unit mesin lagi untuk menunjang kegiatan-kegiatan kami.

Continue reading

Okay, ini adalah hari terakhir di tahun 2021. Jatuh pada hari Jum’at tepat menjelang libur akhir pekan. Sempurna! untuk kita semua yang akan menikmatinya.

Seperti biasanya, ada rasa-rasa yang menerawang ke belakang. Bertanya pada diri sendiri tentang perjalanan tahun ini. Sudah ngapain? Sudah sampai mana? Sudah semakin baik belum? Ada keluh berserakan dimana-mana, namun ada pula syukur yang melapangkan dada.

Seringkali kita meresonansi kenangan, mengingat apa yang sudah dilewati. Mungkin itu adalah cara kita agar tetap menjadi manusia pada umumnya. Mengingat dan menceritakan masa lalu adalah cara kita menghargai setiap perjalanan. Eh eh itu aku ding, hehe.

Beberapa mimpiku tahun ini terwujud. Ada beberapa keinginan yang terlaksana. Namun, banyak pula hal yang harus direlakan untuk dilepas. Tahun ini luar biasa bagiku, pun tahun-tahun sebelumnya. Setiap tahun luar biasa bagiku. Seperti rollercoaster, tahun ini adalah saat di atas dan di bawah secara bersamaan. Tentu saja aku bersyukur untuk semua itu. Tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri itu.

Continue reading

Anjirrr… nggak ngira aku bakal nulis bab ini. Semir rambut woi! tuwooo tuwoooo….hahaha…

Kurang lebih dua minggu ini aku pakai semir rambut. Kenapa? ya jelas karena rambut putih mulai banyak bermunculan di setiap sudut, udah kayak rambut highlight gitu dah.

Sebenarnya aku heran juga kenapa rambut putihnya semakin banyak yah? apakah ini pertanda aku sudah menua? ah tentu saja dong. Apakah ini pertanda aku sudah sangat stress? ataukah ini pertanda untuk meninggalkan dunia hitam? hahaha apalah itu, pokoknya rambutnya mulai putih!

Adalah mbak Osa yang membelikan sebuah produk semir rambut. Katanya mumpung ada promo 10 ribuan, lalu dia coba deh beli satu sachet dengan maksud mencobanya di kepalaku hehe. Dia belum banyak ubannya sih, ada tapi nggak banyak, mungkin baru beberapa helai. Itupun tersembunyi dibalik helaian rambut-rambutnya yang lain.

Dah itu aja ceritanya, sekarang aku pakai semir rambut! bukan untuk menolak keberadaan rambut putih sih. Ini lebih kepada pilihan saja. Untuk saat ini aku memilih menggunakan semir. Kita lihat yah, berapa lama ini akan bertahan.

Kamu gimana? sudah pakai semir belum? atau memilih membiarkan begitu saja? hehe… itu pilihan masing-masing ya gaes….

Seeyaa…….peace love and gaol….

“Umur berapa kamu tahu bahwa kidal adalah singkatan dari kiri dari lahir?”

“Umur berapa kamu tahu bahwa basa-basi adalah singkatan dari bahas sana-sini?”

“Umur berapa kamu tahu bahwa benjol adalah singkatan dari bengkak menonjol?”

“Umur berapa kamu tahu bahwa doi adalah singkatan dari dia orang istimewa?”

Ternyata ada banyak hal yang baru kita ketahui setelah menjadi lebih dewasa ya. Sepertihalnya ini, aku baru mengetahui perihal nama “Hood” dalam tokoh Robin Hood. Ini aku ketahui setelah nonton film tersebut. Sebenarnya ini film lama, tahun 2018, tapi memang dasarnya aku belum pernah nonton hehe.

Continue reading

“Kalau mas nya namanya siapa?” – tanyaku kepada mas-mas di depanku.

“Namaku bagus mas, Tedi” – jawabnya. Hah?? Namanya Bagus atau Tedi ya? hehe.

“Namaku itu Tedi, tapi ada Jawa-nya, mas”. Hmm maksudnya gimana tuh? Lalu dia meneruskan dengan nama panjangnya, “Tediyanto, mas.” owalah! hahaha.

Aku sebenarnya tidak begitu yakin dengan susunan abjadnya, entah itu Tediyanto, atau Teddyanto. Disambung atau dipisah juga nggak tahu. Intinya dia menggambarkan kalau namanya memiliki unsur Jawa setelah diberi akhirnya Yanto. Mungkin karena nama Tedi dianggap bukanlah nama yang awam dipakai orang jawa kali ya, mungkin.

Tedi melanjutkan ceritanya. “Aku tu lahir di taksi mas”. Hah? sebentar, ini sepertinya akan lucu. “Jadi, aku tu lahir disaat dalam perjalanan menuju ke tempat persalinan. Belum benar-benar sampai, eh akunya udah lahir di dalam taksi”. hahaha sontak muncul senyum tawa di antara kami sore itu.

Continue reading

Samsons adalah salah satu band tahun 2000-an yang terhitung sukses pada eranya. Hingga setelah ditinggal Bams sang vokalis dan kemudian disusul Konde sang drummer, nama Samsons mulai redup. Namun tidak sedikit lagu-lagu mereka yang hingga sekarang masih diperdengarkan. – Begitu ujar salah satu penyiar radio yang menemani perjalananku menembus malam dan sedikit rintik hujan.

Esok harinya, dalam perjalanan menujut tempat kerja. Aku kembali mendengar Samsons. Kali ini ku dengar dari seorang musisi jalanan yang sedang memainkan lagu tersebut di perempatan di mana aku bertemu mas-mas selo berjoget. Kebetulan banget yah! malam harinya diperdengarkan soal Samsons dan pagi harinya pun begitu.

Karena sudah lama tidak mendengarkan lagu-lagu mereka, aku jadi lupa judul lagu apa yang dinyanyikan masnya ini. Sambil menebak lagu apa yang dinyanyikan ini, aku berniat setelah sesampainya di kantor aku akan memutar lagu-lagu mereka. Samsons!

Kamu punya lagu kesukaan dari mereka? let me guess… Kenangan terindah? Naluri Laki-laki ? kalau aku sih lagu ini “Akhir Rasa Ini”. Bukan karena ada kesan masa lalu lho ya, ini suka karena secara progresi musiknya aku suka, asik aja chordnya. Bahkan di spotify tersedia versi demonya, versi sebelum rilis resmi, dan lumayan beda banget mixingnya.

Kamu punya cerita tentang Samsons? bukan Samsons betawi lho ya! hehehe…

Dah yah, be right back ngedraft tulisan lain ngga kelar-kelar…

Waktu menunjukkan pukul 7.45 terlihat di dashboard motorku. Tidak biasanya jam segini aku sudah sampai di perempatan kentungan, biasanya lebih sering telat. Pagi ini aku berhenti di paling depan karena baru saja lampu merah menyala.

Alih-alih ngelamun, salah satu kegiatanku ketika menunggu lampu hijau menyala adalah mengamati sekeliling. Biasanya sih mengamati papan iklan. Kalau sore hari biasanya mengamati seniman/ pengamen yang mendendangkan lagu. Sering kali lagu yang mereka nyanyikan menjadi referensiku untuk gitaran.

Berada di sebelah kanan seorang wanita berseragam kantor menggunakan motor beat. Masih terlihat muda, namun sepertinya sudah berkeluarga. Dari pakaiannya terlihat bahwa beliau pekerja kantoran yang sedang mengejar waktu absen di tempat beliau bekerja, semoga nggak telat ya bu!

Di sebelah kiri ada seorang pria, yang membuatku menulis cerita ini. Pria ini berperawakan tidak kurus dan tidak pula gemuk. Berkulit hitam, postur tubuhnya pas dan terlihat berisi. Mengenakan jaket berwarna gelap dan memakai celana jeans pendek.

Continue reading