Entah kenapa sejak awal tahun ini saya mengalami penurunan kesehatan, mulai itu sampai sekarang badan saya masih belum benar-benar sehat.

Saya sudah mencoba berobat berkali-kali, namun sampai sekarang tak kunjung fit. Mulai dari asam lambung yang membuat tenggorokan terasa terbakar, kemudian sakit di bagian saluran tenggorokan yang menggangu, batuk, flu hingga soal dingin dan kuping berdengung.

Akhir-akhir ini badan juga sangat lemah sekali terhadap cuaca dingin. Cuaca dingin bahkan membuat jari-jari tangan menjadi keriput, berasa nyeri dan merah-merah.

Hmmm mungkin Allah masih ingin memberi ujian dan mengajariku untuk selalu bersyukur.

Ya Allah, saya ingin sembuh normal sehat kembali. Aamiin.

Seminggu yang lalu saya berkesempatan hadir dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Google Indonesia. Ini adalah kali pertama saya ikutan acara offline dari simbah. Sebenarnya sebelum acara ini, saya sudah cukup sering mengikuti acara web binar dari mereka secara online, biasanya kita pakai media YouTube atau Hangout. Oh ya, saya juga tergabung dalam secret project mereka lho ckckck.

Hari itu saya menghadiri acara sendirian, kebetulan memang saya dapat invitation melalui emai untuk 1 person. Saya sengaja menghadiri acara ini dengan maksud menambah pengalaman, dan saya yakin banyak hal yang akan saya dapatkan dari pertemuan ini. Continue reading

Well, sampai juga disebuah cerita bahwasanya pada 7 Juli 2018, Ai cabut gigi untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, dan ini juga sejarah untuk kami orang tuanya.

Gimana Ai? Sakit? “Sedikit aja, tapi ngga apa-apa”.

Oh ya, gigi yang dicabut ada dua, paling depan bagian bawah.

Well…
Terkadang rindu masa lampau,
everything goes slow kala itu.
Bangun tak terburu, tidurpun tak menentu.
Jalan seperti raja dan tertawa seperti juwara.

Today…life goes fast and faster…
Dikejar kebutuhan, dikejar urusan,
Dikejar keperluan, dikejar keinginan,
Dikejar tuntutan, dikejar kejaran…

Yeah…
Life go fast, but life must go on. Right?

Enjoy yout life…

Lampu traffic light menyala merah ketika saya dalam perjalanan pulang dari tempat bekerja. Saya berhenti disebuah pertigaan kecil yang terletak tak jauh dari warung penjual siomay “kang cepot”.

Tepat di depan saya berdiri seorang bapak tua yang juga bersepeda tua dengan gerobak di belakangnya. Hmm mungkin lebih tepatnya bukan gerobak kali ya, tapi semacam tempat yang biasa sebagai tempat di sebelah kiri dan kanannya.

Bapak tersebut sepertinya juga dalam perjalanan pulang menuju rumah setelah menjajakan gas 3 kilo yang menurut saya; tabungnya lebih iconic untuk robot hijau Android. Continue reading

“Sebelum rangkaian sholat jumat kita laksanakan, kami dari takmir mesjid akan mengumumkan beberapa hal” begitulah biasanya takmir mesjid memulai pengumuman menjelang jumatan.

Ada hal yang menarik disetiap takmir memberikan pengumuman ini. Yaitu ketika mereka menyebutkan terbilang dari rupiah, baik dari jumlah infak sampai mengucapkan terbilang saldo mesjid.

Saya selalu tertarik mendengarnya bukan karena soal jumlah saldo atau besarannya lho ya. Ini murni dalam context bahasa. Karena tidak semua mesjid mengumumkan soal ini.

Jujur, menyebutkan terbilang dari sebuah angka rupiah itu susah-susah gampang. Kalau rupiahnya masih sedikit sih tak masalah, tapi akan berlibet kalau nilai rupiahnya agak besar dan ganjil-ganjil.

Biasanya yang membacakan pegumuman gini adalah mas-mas takmir yang masih cukup muda, mungkin grogi ya, jadi waktu membaca angka terbilang jadi agak belibet.

Coba deh kita sebutkan terbilang dari angka ini Rp. 83.657.300 atau Rp. 173.678.300, masih mudah? Iya, karena penulisannya tepat dengan pemisah tanda baca. Bayangkan kalau yang menulis itu tanpa tanda baca dan belum lagi ditulis dengan tulisan mawut, misale 83657300 atau 173678300. Bayangno susahnya takmir. Hahaha

Tapi bagian ini selalu menarik buat saya, karena apa? Ya, karena lucu aja. Mayan buat hiburan tho, walaupun hanya sekedar sedikit menggerakan bibir untuk senyum.

Coba deh besok atau nanti waktu jumatan perhatikan takmirnya menyebut terbilangnya, lancar atau terbata-bata ya.

Jika dibandingkan dengan liga sepakbola negara-negara Eropa, maka untuk menyukai sepakbola Indonesia memang tidak mudah. Butuh loyalitas, butuh kerelaan dan butuh banyak hal yang dimaklumi.

Satu-satunya sepakbola Indonesia yang masih bisa langsung diterima semua rakyat adalah pertandingan timnas, itupun saya rasa lebih karena rasa nasionalisme. Walaupun sebenarnya timnas kita itu tidak pernah benar-benar mujur setiap kali partai krusial, alias selalu gagal mencapai titik puncak klimaks kemenangan. Continue reading

Instagram ranked worst for young people’s mental health

Belum lama ini RSPH (Royal Society for Public Health) membuat riset tentang pengaruh sosial media terhadap kesehatan mental penggunanya. Berdasarkan riset tersebut mereka membeberkan hasil berikut :

  1. YouTube ( Most positive )
  2. Twitter
  3. Facebook
  4. Snapchat
  5. Instagram ( Most Negative )

Instagram menjadi yang paling negative dan YouTube menjadi yang paling positive. Kenapa bisa begitu?

Continue reading