Waktu menunjukkan pukul 7.45 terlihat di dashboard motorku. Tidak biasanya jam segini aku sudah sampai di perempatan kentungan, biasanya lebih sering telat. Pagi ini aku berhenti di paling depan karena baru saja lampu merah menyala.

Alih-alih ngelamun, salah satu kegiatanku ketika menunggu lampu hijau menyala adalah mengamati sekeliling. Biasanya sih mengamati papan iklan. Kalau sore hari biasanya mengamati seniman/ pengamen yang mendendangkan lagu. Sering kali lagu yang mereka nyanyikan menjadi referensiku untuk gitaran.

Berada di sebelah kanan seorang wanita berseragam kantor menggunakan motor beat. Masih terlihat muda, namun sepertinya sudah berkeluarga. Dari pakaiannya terlihat bahwa beliau pekerja kantoran yang sedang mengejar waktu absen di tempat beliau bekerja, semoga nggak telat ya bu!

Di sebelah kiri ada seorang pria, yang membuatku menulis cerita ini. Pria ini berperawakan tidak kurus dan tidak pula gemuk. Berkulit hitam, postur tubuhnya pas dan terlihat berisi. Mengenakan jaket berwarna gelap dan memakai celana jeans pendek.

Continue reading

Apa sih yang membuatmu berangkat ke Jogja? Iya aku tahu kamu melanjutkan kuliah di sini, tapi bagaimana kok kamu bisa memutuskan memilih Jogja? Apakah karena memang ingin kota ini atau karena sudah ada gambaran tentang sekolah selanjutnya? Lalu bagaimana ceritamu berangkat ke kota ini?

Jauh sebelum di kota ini aku tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Berangkat ke Jogja untuk melanjutkan kuliah adalah awal dari cerita-ceritaku di kota ini.

Jujur, aku tidak pernah punya gambaran mau melanjutkan kuliah di mana ataupun jurusan apa. Aku tidak punya gambaran seperti orang-orang yang pernah aku tanya sebelumnya. Misalnya ingin kuliah jurusan ekonomi, jurusan hukum atau jurusan bahasa. Aku tidak pernah ada pikiran tersebut.

Pokoknya dulu itu aku sekolah aja, nggak ada kepikiran apa-apa tentang kuliah. Entah memang aku terlalu fokus atau aku memang belum punya rencana masa depan yang baik. Hahaha…

Continue reading

Punya asam lambung seperti halnya tebak-tebakan tiap harinya. Terkadang baik-baik saja, namun tiba-tiba bisa lemah begitu saja.

Ada suatu pagi di mana aku tidak kenapa-kenapa. Namun, ada suatu pagi di mana aku menjadi tidak berdaya. Pagi ini baik-baik saja, tapi esok? Aku tidak pernah bisa menerka, terkadang baik terkadang tidak.

Hanya karena sedikit perubahan cuaca menjadi dingin, aku bisa menjadi tak berdaya. Hanya karena sedikit kabar tidak baik, mental ku tercabik-cabik.

Continue reading

Berkumpul dengan insan baru selama beberapa bulan jelas membuat kami saling mengenal dan saling bertukar bercerita. Banyak hal yang aku pelajari dari mereka, banyak hal pula yang telah mereka lakukan untuk kami.

Kali ini aku akan bercerita tentang mereka, menulisnya sebagai pengingat bahwa mereka pernah ada dalam prosesku membangun mimpi. Mereka adalah keluarga para ahli. Orang-orang yang piawai dalam membangun rumah. Kita biasanya mengenal mereka dengan sebutan tukang, namun kali ini sebut saja mereka dengan diksi para ahli.

Continue reading

(lambung-limbung)

Ini adalah penyakit yang sebenarnya cukup umum dirasakan semua orang. Ada yang dengan istirahat lalu sembuh, ada yang dengan pengobatan lalu selesai, namun ada pula yang berlarut-larut hingga berujung pada kecemasan.

Penyakit ini cenderung muncul ketika seseorang tidak dalam pola hidup yang baik. Pola hidup secara konsumsi ataupun pola pikir dalam kesehariannya.

Sebuah pendapat mengatakan bahwa hubungan antara otak dan lambung sangatlah dekat, sangatlah erat dan sangatlah hangat. Bahkan ada yang bilang kalau otak kita itu sebenarnya ada dua. Keduanya itu saling mempengaruhinya, yakni otak yang ada di kepala dan lambung.

Continue reading

Adalah kegiatan yang sebenarnya cukup menghabiskan waktu dan tenaga (pikiran). Melakukan sesuatu atas dasar belum tahu, biasanya hanya akan menjadi coba-coba yang belum tentu ada hasil dan tujuannya.

Mengulik bukan perkara yang banyak dilakukan. Sebagian orang sudah lelah terselimuti keadaan. Sudah lelah dengan kegiatan yang ada. Alasan yang biasanya dinilai bijaksana adalah sudah merasa cukup dengan kondisi sekarang, ra sah ngoyoo nek jarene wong jowo. Yang sebenarnya adalah kondisi pelik antara hasrat dan kondisi nyata (Saat waktu ada, inginnya istirahat. Saat ingin berkarya, waktu tak punya).

Tidak ada yang salah dari semua pilihan. Semua berhak menentukan pilihan sesuai dengan keadaan dan kesenangan. Yang jelas semua pilihan adalah baik, tanpa terkecuali pilihanmu.

Continue reading

Sebuah tulisan bertajuk Tak Mangapa Menjadi Mas mas biasa di white journal memancingku untuk menulis judul di atas. Aku sepakat hampir di setiap paragraf dalam tulisan tersebut. Isinya jujur, sederhana dan memang begitu adanya. Menikmati yang kita punya, tanpa harus keras terhadap dunia.

Aku ingat salah satu tulisanku yang lain, tentang keinginan, yang mana tidak semua keinginan dapat diraih, bahkan kita sendiri yang harus menghentikannya. Bukan untuk tidak menggapainya, tapi memilih untuk menikmati yang kita punya.

Continue reading

Beberapa hari ini, setiap Maghrib aku mengajak si kecil Aya pergi ke Masjid. Selain untuk mengenalkan penciptanya, aku ingin melihat perkembangan Aya dalam menjumpai hal-hal baru. Oh ya, saat ini Aya berusia kurang dari tiga tahun, tepatnya dua tahun delapan bulan. Usianya akan ganjil tiga tahun pada bulan November nanti.

Aya ini memang lebih berani dibanding mbaknya. Dia cenderung suka ikut dan mau mencoba ini itu. Walaupun begitu kadang dia tiba-tiba masih sering menarik diri dan takut.

Hari pertama aku mengajaknya ke Masjid, aku pikir Aya akan menolak ajakanku, eh ternyata dia langsung mau dong. Aya dengan semangat minta pakai kerudung sama Mamapnya, sambil bilang “Adek Aya mau pergi ke Masjid”. Langsung cus ke Masjid. Aku pikir anak ini akan rewel atau mungkin akan minta pulang. Aku harus siap-siap nih, aku sebenarnya grogi sih (efek psikosomatis mulai muncul).

Sampai di Masjid, Aya mulai observasi lingkungan, sebenarnya tempat ini tidak terlalu asing bagi dia. Aya beberapa kali main ke sini dan sudah mengenal beberapa orang di sini. Namun seperti biasa, semua hal pertasma selalu butuh pengenalan dan observasi.

Continue reading

( psikosomatis )

Semenjak menderita asam lambung hingga gangguan kecemasan, ada banyak hal yang berubah. Bisa dibilang tidak ada hari-hariku tanpa rasa cemas.

Aku menjadi orang yang sangat dekat dengan kecemasan. Banyak hal yang dapat membangkitkan rasa cemas dalam pikiranku. Apapun itu, bahkan hal sepele dapat dengan mudah membuat cemas dan mengubah kondisi tubuhku. Dalam satu waktu aku bisa merasa sangat baik, namun hanya dalam hitungan detik aku dapat berubah menjadi cemas dan lemas. Hanya karena sebuah perasaan merasa.

Kenapa aku sebut perasaan merasa. Terkadang tubuh ini merespon kondisi pikiran terlalu cepat, bahkan sangat cepat. Contoh: ketika aku merasa kalau aku lemas, maka dalam waktu singkat tiba-tiba tubuh merasa sangat lemas. Atau disaat aku mendapatkan kabar buruk, aku bedebar, saat berdebar itu aku merasa ada yang tidak beres di tubuhku, dan langsung seketika itu juga tubuhku menjadi tidak enak dengan banyak perasaan itu.

Continue reading

Beberapa minggu ini bapak tidak makan nasi. Sebagai pengganti karbohidrat beliau mengkonsumsi tales, singkong atau suwek rebus. Selain nostalgia masa kecil dulu, makan makanan ini menjadi terapi untuk mengurangi kadar gula. Sehat selalu ya pak! . Eh eh bentar, kamu tahu suwek kan? Tales ? mereka ini juga sejenis tanaman umbi-umbian yang bisa direbus. (Googling sendiri ya).

Aku bertanya. “Pak, bu. Hal apa yang teringat ketika memakan tales rebus atau suwek rebus?”. “Yaaa waktu dulu masih kecil makannya ya begini, belum bisa beli beras. Kalau mau makan biasanya nyari ini di kebon.” Ujar beliau sambil tertawa menghangatkan suasana meja makan sore itu.

Sore itu di meja makan tersedia ikan bakar. Sudah dua hari kami mengkonsumsi ikan bakar. Kami penggemar ikan bakar. Bukan ikan bakar yang digoreng terlebih dahulu, tapi ikan bakar yang benar-benar dibakar langsung. Tentunya lengkap bersama sayuran rebus dan sambel sebagai penggugah selera. eiits… bagian ini ngga usah terlalu banyak, ingat asam lambung. hehe.

Ngomong-ngomong soal bahan makanan pengganti nasi, aku teringat sebuah cerita dari salah satu ekpedisi yang ceritanya sedikit nyerempet tentang makanan pokok. Sambil asik mengunyah aku mulai bercerita;

Continue reading

Judul di atas adalah waktu di mana aku mulai menuliskan ini. Lima menit lagi adalah waktu pulang. Kalau dulu jaman sekolah itu adalah waktu bel akan berbunyi.

Oh ya sekolahku SD dan SMP dulu pakainya lonceng, bukan bel. Loncengnya pun berasal dari velg ban mobil bekas, dipukul pakai besi entah besi apa itu. Sementara saat SMA sudah berganti menjadi bel, biasanya bunyinya gini “teeeet teeet teeet teeet”.

Baru nulis beberapa kata gini sudah memasuki menit ke 28 ( tiga menit berlalu ). Dua menit lagi waktu pulang, kembali ke rumah membawa lelah dan menemui penawar lelah.

Yuk mari pulang, kerja memang lelah tapi kalau ngga kerja malah bisa tambah melelahkan.

Hati-hati dalam perjalanan, sehat-sehat lah dan bahagia.

(tulisan yang embuh pada periode lima menit menanti saatnya pulang)

Jauh sebelum tinggal di Yogyakarta, aku tumbuh besar di kota Banjarmasin. Namun, jauh sebelum itu, masa kecilku sempat mampir di kota Semarang. Semarang adalah kota kedua setelah aku dilahirkan, yakni Yogyakarta.

Tinggal di Semarang adalah secuil masa kecilku, aku mulai mengenal bangku sekolah dari kota tersebut. Dan dari sana lah keluarga kami tumbuh. Ada beberapa memori yang hingga kini masih melekat dikepala. Beberapa hal itu akan aku ceritakan padamu.

Di Semarang kami tinggal di rumah kontrakan. Terhitung dua kali kami berpindah rumah, sebelum akhirnya kami hijrah menyebrang pulau ke Banjarmasin.

Continue reading

Sebelum tidur, saya mengantarkan anak-anak tidur sambil bercerita. Saya memperlihatkan salah satu karya mas Pinot kepada Aila. Keluarga Pinot adalah salah satu sumber inspirasi yang saya kagumi akan karya-karyanya.

Dengan dalih ingin belajar dari Pinot, saya juga berusaha mengenalkan sebuah kata “proses” kepada anak-anak. Tidak ada yang secara cepat berhasil membuat sebuah karya tanpa sebuah proses di belakangnya. Walaupun saya tetap tidak akan memaksakan kehendak kepada mereka (anak-anak). Mereka bebas menjadi apa saja, yang penting tetap jadi orang baik.

Continue reading

Ada rasa yang menyeruak dari dalam dada. Tentang rasa bangga, tentang rasa haru dan tentang rasa syukur.

Melihat apa yang selama ini diusahakan, perlahan-lahan menjadi sesuatu yang diinginkan.

Pelan, perlahan, tidak berlebihan, namun cukup.

Ada rasa itu dari dalam dada.

Ini adalah komputer pertamaku.

Waktu itu (2004) adalah saat pertama kali aku memiliki benda yang bernama komputer. Aku adalah seorang yang baru saja lulus pendidikan menengah atas dan berencana melanjutkan belajar di bangku kuliah dengan jurusan Teknik Informatika.

Pada saat itu aku bukanlah orang yang sudah lama mengenal komputer. Aku hanya tahu benda tersebut dari praktikum di sekolah, itupun hanya 1 jam perminggunya, bahkan hanya dua bulan sebelum kelulusan.

Continue reading

Setelah tulisan soal papan iklan di jalan kemarin, tulisan ini sama halnya saat aku Menyapa Oktober. Isinya serpihan cerita selama beberapa bulan terakhir. Isinya mungkin tidak terlalu berarti, tapi tak ada salahnya untuk dituliskan di sini. Selamat menikmati…


Mengurangi

Pertama soal self reminder dulu ya, sebenarnya ini untuk aku sih. Tapi siapa tahu bisa jadi bekalmu juga untuk mengarungi perjalanan (ceileeeh).

Continue reading

“Towel! Towel! Towel!” Teriak Aila setiap kali melihat tower pemancar BTS. Semasa kecil, Aila paling senang kalau lihat tower. Matanya selalu awas untuk melihat tower. Baik sedang jalan kaki, naik motor atau naik mobil dia paling tertarik kalau lihat tower.

Entah apa yang ada di benaknya, yang jelas; tower adalah cerita bagi kami dan Aila.

Berbeda dengan Aila, kali ini cerita anak kedua kami, Aya.

Continue reading

Tidak terasa tahun 2020 sudah memasuki masa senja. Dengan segala cerita di dalamnya, kita sampai jua di penghujung cerita.

Tidak sedikit yang menyenangi waktu senja seperti ini, apakah aku termasuk? Hmm aku tidak terlalu fanatik soal ini. Tapi jika ada yang bertanya apakah suka senja? Aku akan jawab “suka”, bahkan dulu pernah rajin hunting foto senja, dulu.

Aku juga suka pagi. Tapi sekali lagi, aku bukan orang fanatik soal ini. Senja atau pagi, keduanya punya kemewahan yang tidak layak dibandingkan satu sama lain.

Menikmati senja adalah kemewahan, terlepas dari gaya kekinian yang suka menyandingkannya dengan kopi atau teh. Tapi tidak harus begitu juga kan?

Seperti selayaknya menikmati senja, mari kita nikmati saja tenggelamnya matahari di Tahun ini. Tidak perlu risau akan pencapaian yang belum terlampaui ataupun sibuk memikirkan rencana untuk esok setelah senja.

Continue reading