Mixed Feeling

Sebuah notifikasi dari Instagram muncul di layar ponselku. Pemberitahuan tentang dia yang menyebutku dalam ceritanya, dalam story terbarunya. Setelah dibuka itu adalah poto anak perempuan kami yang baru saja menyelesaikan bangku sekolah dasar. Ada dua poto yang di mixed menjadi satu di sana. Poto pertama, ketika dia masuk sekolah SD dan poto kedua ketika dia menyelesaikan sekolah SD. Potonya di tempat yang sama, di depan papan identitas sekolahnya. Namun waktunya yang berbeda. Sebuah poto sederhana yang mengambarkan perjalanan dia selama di sekolah dasar.

Masih teringat jelas ketika pertama kali mengantar anak itu ke sekolahnya. Bajunya bersih, putih, cenderung kebesaran. Bagian yang selalu terkenang adalah bagaimana dia memakai jilbabnya hingga menutupi alis. Ahhhh itu cerita yang melucukan ya, Ai. Kami antar dia hingga ke depan kelasnya, ia masih malu-malu dan terlihat khawatir. Wajar ya, Ai. Akan selalu begitu untuk yang pertama. Drama-drama kecil pun tak luput terjadi, salah satunya adalah drama ketika dia mau minta pindah tempat duduk yang deket jendela saja, dengan maksud agar bisa melihat ibu bapaknya yang di luar kelas dari sana.

Ah….

Alhamdulillah, sudah enam tahun kamu di sana Ai. Sudah banyak belajar hal dasar yang menurutku tidak dasar-dasar banget, karena banyak menemui pelajaran yang sulit di sana. Sekali lagi; Alhamdulillah ya, Ai. Sebuah langkah terlewati, dan Insha Allah langkahmu masih akan panjang di depan.

Setelah kelulusanmu, ada banyak hal yang dipikirkan dan dirasakan. Semacam mixed feeling atau campur aduk di sana. Rasa bangga sudah pasti ada, rasa haru tentu saja dan rasa khawatir pun turut serta. Ini bukanlah perjalananmu saja, Ai. Tapi juga perjalanan kami, perjalanan kita.

Kamupun akan tumbuh semakin besar, semakin dewasa dan kelak akan menjadi perempuan mandiri. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mencapai titik ini dan merasakan perasaan ini.

Kadang merasa agak lucu dan aneh saat sekarang sudah bisa WhatsApp-an sama kamu. Bisa lihat status-status mu. Owh God, thanks for this feeling.

Sekarang saatnya melangkahkan kaki di tempat yang baru, Ai. Terlepas dari apapun yang sudah kita lewati kemarin, susah-susahnya, sedih-sedihnya, pusing-pusingnya, kini saatnya kita jalani sesuatu yang baru dengan lebih baik. Seperti tulisanmu dalam buku kenangan sekolah “Usaha tidak akan menghianati”, Aku/kami -pun akan berusaha sebaik mungkin untukmu, Ai.

Di manapun kita berada sekarang, di situlah kita akan berusaha sebaik-baiknya. Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung.

Selamat, SMP. Selamat belajar kehidupan yang baru.

1 Comment

·

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *