Terkadang, pilihan memang terdengar menyedihkan. Ada pula pilihan yang terdengar sangat menyenangkan. Namun pada kenyataannya, semua pilihan akan berakhir dengan bagaimana kamu menyikapi suatu keputusan.

Menjalani kehidupan lebih sulit daripada mendekatkan diri pada sebuah tragedi yang mendatangkan sebuah kematian. Jadi, hiduplah selagi hidup, Sayang.

Continue reading

Cuaca dingin di Jogja selalu hadir dibarengi masa datangnya mahasiswa baru, itulah yang selalu terbesit di pikiran saya.

Sebenarnya kebetulan aja sih ya, tahun ajaran baru dimulai sekitar bulan Juli Agustus dan bertepatan dengan masuknya musim kemarau yang selalu saja berselimut dingin. Brrr….

Dahulu waktu masih kuliah memang yang teringat adalah cuaca dingin gini biasanya saat sedang ramai-ramainya ospek.

Continue reading

Selepas menunaikan kewajiban, ada sedikit dialog bersama Aila.

“Papa, masih kurang enak badan ya? makanya ngga pergi ke Masjid?”

Akupun menjawab “Masih kurang sehat Ai, papa masih merasa kedinginan, ujung jarinya sakit-sakit dan masih sering batuk”.

Lalu, Aila kembali menjawab dengan kalimat begini.

“Tenang Pa, yang penting papa senang, nanti pasti sehat kembali”.

Oouchh….Tahukah kamu Ai salah satu hal yang paling Papa inginkan adalah sehat! Demi Allah, senang sekali jika ada yang mendoakan sehat, sungguh!

Selalu doakan Papamu ini ya, nduk. Doakan kami orang tuamu, ibumu, ibumu, ibumu, lalu aku.

Aku yang masih merasa tak sesehat biasanya.


Aya, begitu sapaannya. Perempuan bernama lengkap Altheya Adhara Sadhitya ini adalah kekasih baruku. Sekedar kamu tahu, aku telah menjatuhkan hatiku padanya sebelum aku benar-benar melihat parasnya.

Aku percaya bahwa Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakannya, kehadiran Aya membawa senyum bagi dunia kami, terutama bagiku.

Tentu saja Aya belum mengerti bagaimana perasaanku padanya. Bagaimana dia telah merebut sebagian hatiku untuknya.

Continue reading

Hey Saka! kita harusnya tidak lewat sini! ini semua karena mu, kini kita harus tersesat dan bingung harus kemana, kan!” – Itulah teriakan Tara kepada Saka yang berada di depannya.

Saka dan Tara adalah dua orang sahabat yang sedang menyusuri padang pasir tandus nan panas, mereka berkelana mencari sebuah desa yang konon menjadi pusat perdagangan.

Sepanjang perjalanan kedua orang ini sibuk berdebat. Memang, keduanya terkenal memiliki kesenangan berbicang banyak hal yang tak penting, bahkan sampai berdebat.

Alih-alih untuk mengisi waktu agar tidak bosan dalam perjalanan, debat mereka ibaratnya seperti netizen yang suka otot-ototan biscara soal politik, debat kusir yang tak ada akhirnya itu sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak dalam kehidupan masing-masing, hanya akan menghabiskan tenaga.

Continue reading

Sore ini pulang dari tempat kerja rasanya ngantuk sekali, saking ngantuk-nya sampai-sampai merasa hampir saja terlelap di atas motor.

Suasana sangat mendukung, mendung sore, cuaca bagus, tidak macet dan angin sejuk, kantuk semakin menjadi-jadi.

Pernahkan merasa ngantuk banget ketika di dalam mobil? Seperti mendengar suara sekitar tapi samar-samar, lalu mata terasa berat ingin menutup, nah begitulah rasaku saat itu.

Tentu bukan tanpa alasan sih ya, sudah dua hari ini kurang tidur dan terlalu larut untuk memejamkan mata.

Selain karena memang kantuk, hal lain yang membuat semakin ingin terlelap adalah memakai sepeda motor matic. Motor yang tinggal gas ini membuat minim sekali aktivitas di atas motor, sehingga membuat terlalu nyaman yang akhirnya menjadi terkantuk-kantuk.

Ah… paragraf di atas terdengar seperti sebuah alibi saja! seolah gimick tulisan, ya kan ya kan? Tapi ah sudahlah ngantuk ya ngantuk saja. Lagian, hey, siapa juga yang peduli sih dengan banyak alasan-mu!?

Jika ada yang tanya apa kelebihan sepeda motor matic, maka jawaban saya adalah “minim aktivitas, tinggal gas, lalu ngeeeng….”.

Pun jika ada tanya apa kekurangan sepeda motor matic, maka jawaban saya adalah “minim aktivitas, tinggal gas, lalu ngeeeng….”.

Hmm…lalu apa bedanya!?

Sudah gitu saja, Saya masih mengantuk ketika menulis ini.

Jika ngantuk jangan berkendara, dan jika berkendara janganlah mengantuk.

Salah satu ajaran orang tua jaman dahulu adalah, “jangan pegang kepala orang, apalagi orang yang lebih tua”. Kenapa begitu ya? mugkin karena kepala dianggap sebagai mahkota untuk setiap individu, jadi memegang kepala orang lain dianggap tidak sopan.

Pernah juga dapat cerita kalau jaman dahulu anak-anak tidak akan memulai makan jika orang tuanya belum pada makan. Semisal ada ayam ingkung di meja makan, bagian terenak (rempelo-hati, kepala, pupu) dimakan oleh kepala keluarga alias bapak. Sementara anak-anak mungkin hanya akan dapat suwiran karena harus berbagi dengan jumlah saudara yang banyak ( jaman dulu anaknya banyak-banyak).

Continue reading

Setelah sekian purnama kondisi membaik, akhir-akhir ini kembali merasa dalam kondisi tidak baik.

Muncul keraguan yang dulu sering menghantui, kembali cemas untuk melakukan sesuatu, kembali mengkhawatirkan sesuatu yang entah apa itu.

Merasa seperti orang sakit tapi tidak benar-benar sakit. Muncul begitu saja, lemah dan tak terkendali, tapi juga menjadi baik-baik saja.

Mungkin karena cuaca yang kini mulai kembali dingin ( literally ). Beberapa purnama sebelumnya cuaca lebih hangat, pun suasananya begitu.

Semoga hanya karena itu,…

Mari menghangatkan suasana, lagi!

Banyak hal baik di dunia, namun ada beberapa hal yang mesti dan wajib diterima.

Kecewa. Termasuk gagal, ditolak, kehilangan dan patah hati.

Tua, Sakit dan Meninggal.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan mengalaminya.

Sekeras apapun berfikir hal positif, dunia akan selalu menyajikan hal negatif.

Selantang apapun mensyukuri sisi manis, kenyataan selalu memiliki sisi pahit.

Benar. Kita perlu melatih diri untuk suka dan gembira. Namun ternyata ada yang lebih penting dan kadang terlupakan, menjadi tangguh untuk tidak sekedar menikmati hal suka, dan menjadi kuat untuk menghadapi hal duka.

Jadi, boleh saja kita menikmati indah pagi, tapi gelap malam akan tetap hadir.

Untuk yang sedang merasa kehilangan, sedang merasa sendiri, tanpa arah, merasa kecewa dan bahkan penuh sesal. Yakin! Bahwa itu semua adalah hal terbaik yang pernah ada.

Dari hal berat itu, masih ada pilihan untuk terus berjalan dan tidak untuk larut tenggelam.

Terus belajar untuk sadar; bahwa kita mesti menerima hal pahit dan menciptakan hal baik dari kepahitan itu sendiri.

Saya pun masih belajar…

Tak ada yang mudah dari sebuah perpisahan, dan ini adalah segelas teh terakhir buatan seorang kawan yang harus pergi berpisah.

Walaupun begitu kita sudah menyadari, bahwa semanis apapun pertemuan pasti akan ada saat untuk mengikhlaskan.

Sampai bertemu dilain kesempatan, semoga jumpa kita nanti kamu tak perlu membuatkan teh.

hari itu sengaja meminta teh, agar memberi semangat padanya.

Bersikap Tenang dan Tidak berbuat apa-apa adalah dua hal yang berbeda.

Pak Han dalam film the karate kids

Kadang diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam agar menjadi lebih tenang, agar lebih sabar atau agar lebih baik dalam mengambil tindakan.

Diam menahan rasa, mungkin itu adalah yang terbaik.


Bersama yang tersayang, tadi malam nonton film ini untuk kesekian kalinya, dan baru tadi malam juga menyadari ada sebuah pesan dari Pak Han.

Sebelumnya, kami (saya) ini adalah orang yang sebenarnya jarang sekali tampil di depan publik. Kami orang yang terbiasa dibalik layar komputer, namun kebetulan punya kesenangan yang sedikit sama, yakni bermusik.

Adalah ibu direktur yang secara tiba-tiba meminta kami untuk tampil akustikan di acara beliau. Mak deg tentunya dong. Kami yang tidak pernah main bersama langsung ditodong untuk main akustikan dalam sebuah acara. Padahal kalau saya gitaran saja jarang banget memainkan sebuah lagu secara lengkap dan sampai selesai.

Parahnya kami hanya punya waktu dua hari. Hari ini adalah Rabu, sementara harus tampil pada hari Jum’at.

Ya tapi tapi tapi mau gimana lagi, ini perintah atasan dan mau tak mau ya harus maju. Dengan berbekal sedikit keyakinan kami memulai latihan Rabu malam di rumah salah satu kolega yang super duper berbakat, serba bisa dan punya kelengkapan alat yang lebih dari cukup untuk kebutuhan perform.

Saya sendiri sudah lama sekali tidak main musik bersama-sama, sudah lama sekali tidak tampil di depan publik, intinya sudah lama tidak berkegiatan diluar kebiasaan sehari-hari. Perkara ini jelas erat kaitannya dengan kesehatan psikis yang hingga kini masih cukup sering menghantui.

Bagaimana mau perform main musik, untuk urusan mengendalikan kecemasan saja saya kewalahan setengah mati.

FYI, sudah dua tahun ini saya mengalami psikosomatis. Kalau terapis bilang saya mengalami Mental Exhausted. Efek yang timbul adalah rasa cemas yang sangat hebat ketika hendak melakukan sesuatu. Cemas ketika dalam situasi yang baru atau dalam keadaan tidak baik.

Adanya event manggung dadakan ini membuat rasa cemas bergejolak, sangat bergejolak. Saya sudah merasa tidak tenang semenjak mendapat kabar diminta untuk perform.

Gejalanya macam-macam, asam lambung naik pesat, badan menjadi panas dingin cenderung kedinginan, bedebar kencang yang lebih kepada rasa takut dan menyerah, yang jelas kecemasan ini mengganggu hingga kondisi fisik tentunya.

Beruntungnya saya memiliki teman-teman yang mengerti dengan kondisi ini, mereka memberikan banyak dorongan, meyakinkan saya untuk mampu melewati ini, dan yang jelas saya merasa memiliki teman dalam kondisi ketidaknormalan ini.

Sebelum fix sampai di hari H, saya sering sekali ragu untuk main. Bahkan tiap hari mengeluarkan pertanyaan “Eh ini jadi main?” Saking ragu-ragunya.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa hal sepele semacam ini menjadi berarti bagi seorang penderita dalam kondisi psikis lemah, yang cenderung butuh bantuan.

Jujur, saya memberi apresiasi tinggi untuk mereka yang memahami kondisi saya. Keluarga tentunya, kawan-kawan yang sudah sangat dekat, mereka sedikit banyak sangat membantu sekali.

Dalam sebuah sesi konseling, saya pernah diberi nasihat oleh seorang terapis; “Anda beruntung mendapat dorongan dan ditemani oleh seluruh anggota keluarga. Banyak sekali orang yang bermasalah psikis seperti Anda, namun pada akhirnya diacuhkan oleh keluarganya sendiri. Padahal seseorang yang menderita seperti ini adalah individu yang butuh bantuan.”

Saya bukan mengada-ada atau butuh perhatian. Namun yang jelas, saya benar-benar berterima kasih kepada kamu, kamu dan mereka yang telah banyak membantu dan selalu menemani. Semoga kalian selalu sehat.

So, hari itu Jumat, 26 Juni 2020, menjadi sebuah pencapaian terbaik dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini.

Selama proses persiapan ataupun saat tampil kemarin sempat membawa saya pada memori masa lalu. Merasakan kembali jiwa yang penuh yakin, sedikit liar tanpa takut dan sangat bersemangat.

Yang jelas, peristiwa ini sangat lebih dari hanya sekedar tampil bermusik. Ini adalah salah satu step terbaik dalam proses healing. Tampil di depan publik bukan hal mudah bagi penderita kecemasan.

Alhamdulillah mereka selalu meyakinkan saya untuk terus maju dan pada akhirnya mereka akan berkata “berhasil kan? Bisa kan?”.

Ini akan jadi bekal proses healing selanjutnya. Saya akan mengingat kejadian ini untuk lebih kuat menghadapi hal selanjutnya. Mengingat kalian juga tentunya.

Semoga lain waktu kita bisa bersama-sama main lagi!

Perkenalkan, mereka pemainnya.

Walaupun terdengar banyak kacau sana-sini tapi menyenangkan ya melihat dan mendengar hasil perform sendiri.

Terima kasih, teman.

Akhir-akhir ini Jogja sedang dirundung gelombang pesepeda. Muncul banyak sekali pelaku sepeda dimana-mana. Semua kalangan beramai ramai beraktivitas sepeda. Bahkan rewang yang membantu saya di rumah saja sudah mulai ikut kegiatan ini.

Karena pesatnya pertumbuhan pesepeda hingga akhirnya menimbulkan banyak pemberitaan yang semakin gencar juga. Seperti biasa, sesuatu yang baru dan booming pasti akan menimbulkan sedikit polemik sebagai bumbu gayeng kalau ngobrol di cakruk atau mention”an di Twitter.

Menurut saya, fenomena ini muncul karena rasa yang sama. Disaat semua kegiatan olahraga banyak yang lockdown, banyak yang mulai bosan karena kurangnya aktivitas di luar rumah, maka membuat individu secara naluri akan mencari sesuatu yang baru.

Bersepeda adalah salah satu pilihan paling menarik. Selain menjadikan sebagai media refreshing, bersepeda memberikan bonus olahraga yang cukup baik, kenapa saya sebut baik? Karena olahraga ini minim benturan dan paling sering memompa jantung, sangat cocok untuk menjaga stamina.

Lalu mulai banyak komunitas pitpitan muncul, minimal di lingkungan terdekat. Seperti di kantor, yang tiba-tiba sedang trends bike to work atau seperti paguyuban pit tetangga kampung yang mben Sabtu Minggu gowes cari sarapan.

Terciptanya kumpulan atau bahasa keren-nya adalah komunitas berawal dari kegiatan yang sama, pemikiran sama yang intinya adalah rasa yang sama. Sepakat?

Tidak ada yang salah dengan itu, semua ada waktunya, dan salah satu cara menikmati hidup adalah melakukan yang kita suka. Betul?

Seperti yang pernah saya tulis bersepeda juga srawung, kegiatan ini bisa menambah kedekatan bagi siapapun itu. Yang dulunya jarang bersenda gurau, kini setelah melakukan kegiatan yang sama jadi asik punya bahasan yang sama.

Mungkin juga yang dulunya tidak akur jadi malah berbaikan dan dekat karena memiliki rasa yang sama. Asik kan? Kalau sudah begini, maka panjang umur kebaikan dan teruslah berkawan.

Setiap kita butuh kawan yang sama. Sama-sama menyenangi hal yang sama, yang sama-sama mengerti apa yang sedang dialami. Yang paham jika saling membutuhkan, saling mendorong, saling mendengar dan bercerita. Saling mendukung ataupun asik berbagi.

Lihat sekeliling, yang biasanya bersama adalah mereka yang merasa sama. Mereka yang satu pemikiran, satu cara pandang, kesenangan yang sama dan bahkan karena pernah mengalami hal yang sama. Minimal kita memiliki pasangan yang selalu bersama.

Pelihara-lah rasa bersama dengan lainnya (dia), Jangan sampai hilang pada akhirnya. Karena salah satu pengobat hati adalah bisa berbagi dengan orang yang satu frekuensi, berbagi dengan mereka yang memiliki rasa yang sama.

Selamat menikmati kumpulan sepedaan, teman-teman. Pesan saya; walaupun naik sepeda, kamu harus tetap berhenti jika lampu bangjo berwarna merah!

Sekian dan apakah masih sama?

Bagi yang resah gelisah,

Bagi yang rapuh terkoyak dunia,

Bagi yang tak henti melawan dunia dan cemas,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang merasa sendiri,

yang harus kehilangan,

dan bahkan yang baru saja memiliki,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang belajar baik,

yang belajar memahami,

dan yang belajar mengerti,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang masih berharap,

yang masih merindukan,

dan yang masih membutuhkan,

Apa rencana mu, Tuhan?


Kita selalu berusaha berkomunikasi dan meminta Tuhan mendengar, tapi justru terkadang kita tidak sadar bahwa Tuhan sering mencoba berkomunikasi dengan kita”, melalui banyak pertanda, melalui banyak kesempatan, peluang dan melalui banyak hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Kita terlampau sibuk meminta dan bertanya,

Tuhan, apa rencanamu? bagi saya yang seperti ini,…

Jika ada kurir mengantar paket ke rumahmu. Cobalah sesekali balas mereka dengan memberi sebotol minuman sebagai pelepas lelah.

Niscaya syukurmu bertambah.

***

Melakukan kebaikan memang tidak harus diumbar. Namun menularkan kebaikan adalah kebaikan yang baik.

Terima kasih kamu, yang telah memberi sebuah pelajaran hari itu.

Kok ada ya yang buka jasa macam ini? Dan herannya, ternyata banyak juga yang membutuhkan jasa ini!

Akhir akhir ini memang saya banyak melihat soal literasi di linimasa. Ialah Zarry Hendrik, CEO dari kapitulis ini sering membagikan info perihal banyak yang menggunakan jasa rangkai kata. Lalu membuat saya kepo tentang ini itunya.

Kok bisa ya? Saya masih heran juga. Tapi ternyata memang merangkai kata itu tidaklah mudah. Misal, untuk menulis sebuah caption pada unggahan media Instagram saja, masih banyak yang kebingungan. Terkadang akhirnya hanya menulis no caption, vitamin sea atau apalah ngga jelas gitu yang dianggap cukup, misal.

Bagi sebagian orang caption ternyata sangat penting untuk menjaga citra bersosmed dan meningkatkan engagement.

Saya mencoba telusur apa saja sih jenis rangkai kata yang banyak dipesan, ternyata banyak juga jenisnya dan bahkan tidak melulu soal percintaan, kegalauan atau keresahan.

Jenis lainnya seperti rangkaian kata motivasi, melamar kerjaan, kata-kata untuk resign dan bahkan kata-kata untuk left dari group pun ada. Walaupun mungkin masih banyak yang rangkai kata soal hati ; melamar dia, kata rindu, kata maaf dan kegalauan lainnya.

Saya pernah mendapati juga, ada yang memesan kata untuk orang tuanya. Pesanan kata untuk kembali rujukan. Dan kata-kata itu berkerja dengan berhasil membuat rujukan terjadi! Luar biasa yah. Rangkaian kata bisa meluluhkan hati!

Memang ya, sebuah rangkaian kata itu terkadang bisa jadi magis, bisa membuat yang membaca merasakan atau membayangkan.

Pernah ngga sih kamu membaca sebuah cerita singkat, tapi kamu sampai membayangkannya? Nah itu magisnya.

Misal, sebuah deskripsi seorang wanita yang memiliki rambut panjang lurus dan hitam, dia lebih suka membiarkan rambutnya terurai, membuat aroma harum tercium pada disetiap kibasan rambutnya. Potongan cerita tersebut jika ditulis lebih dalam, bisa saja membuat sang pembaca membayangkan lebih jauh.

Misalnya lagi; “Hey kamu, aku rindu. Peluklah aku, tak perlu erat, longgar saja. Aku masih ingin bisa melihatmu dan tetap bernafas dengan baik.”

Sayangnya, saya tak pandai melakukannya. Pol mentok ya gitu-gitu aja, seperti halnya nulis caption yang copy paste, isinya hanya Ampas! semata.

Tapi asik juga ya kalau bisa membuat rangkaian kata gitu. Terlebih ternyata kegalauan dan keresahan bisa menjadi sebuah komoditi.

Buka usaha di bidang jasa memang tak ada matinya. Modalnya adalah ilmu. Tapi ya susah juga kalau ngga berilmu olah rangkai kata ini.

Apalagi rangkai kata ini kan sangat dekat sekali dengan plagiarisme. Bayangkan saja menulis pesanan kata rindu berkali-kali tapi tidak boleh sama satu sama lainnya. Haduh kalau ngga punya kamus kata yang banyak pasti bingung tuh. Ya ngga?

Atau gini, kondisi mood tidak baik tapi harus menerima pesanan kata-kata yang ber-mood baik, atau juga sebaliknya. Mumet kan?

Contohnya cuitan di bawah, apakah saat menulis itu ZH sedang merasa rindu? Membayangkan kejadian pelukan? Bagaimana dia bisa menuliskan kata itu sedangkan mood dia tidak berada di situ? Nah inilah kenapa jasa ZH sangat profesional.

Yah begitulah ternyata, saya masih heran juga soal ini. Tapi nyatanya banyak yang menggunakan jasa ini.

Beberapa orang sangat yakin bahwa sebuah kalimat dari susunan kata yang tepat mampu mendatangkan sebuah magis untuk para pembacanya.

Sekian dan mari menulis lagi.

Setelah kemarin sharing tentang tulisan “Kenapa Berteriak Ketika Marah?” Ada sebuah pertanyaan lewat private message yang cukup menarik buat dibahas, yakni “Kalau yang marahnya diam, bagaimana dong ?”

Cukup menarik, karena saya yakin untuk yang pernah melewati fase pacaran atau temenan deket, pasti pernah merasakan ini. Merasakan yang namanya konflik tapi diam-diam an atau malah cuek-cuekan.

Jika di tulisan sebelumnya dibahas bahwa kenapa orang berteriak saat marah? Karena hati mereka sebenarnya sedang saling menjauh, jadi mereka merasa harus berteriak dengan maksud pesannya tersampaikan.

Dalam tulisan ini saya tidak mau bahas tentang “yang marahnya diam” lebih dulu, tapi saya mau bahas; “yang diam ketika marah”.

Ada beberapa sudut pandang, asumsi menurut saya;

Alasan diam ketika marah, yakni mengambil waktu untuk menunda emosi, meredam konflik.

Diam untuk menyiapkan waktu dan tenaga menyelesaikan konflik pada saat dan cara yang tepat.

Diam untuk memberi ruang pada diri sendiri dan lawan marah untuk lebih tenang.

Diam disaat marah untuk memberikan waktu pada hati masing-masing untuk saling mendekat.

Yang parah adalah “Diam karena hati mereka sudah terpisah terlampau jauh, bahkan berteriak pun tidak membuat pesan marahnya tersampaikan, yang pada akhirnya memilih untuk diam.”

Yang jelas menurut saya, diam adalah salah satu cara yang baik untuk meredam amarah jika sedang berkonflik. Selain itu, saat marah ada baiknya kita duduk atau berbaring, bisa juga dengan mengambil minum dulu agar lebih tenang, bahkan pergi dulu saja dari lokasi konflik.

Hanya saja, terkadang yang kurang baik adalah “sudah diam tapi malah semakin memperdalam rasa marah, justru terjebak perasaan amarah.”

Sudah diam, tapi bukan untuk mencari solusi, malah kusut sendiri. Nah ini yang sebaiknya dihindari, cepat-cepat diselesaikan saja masalahnya kalau sudah begini.

***

Bagaimana dengan yang marahnya hanya diam aja?

Kalau pasanganmu modelnya gini, berarti Anda termasuk orang yang mau repot sekali, maunya diperhatikan tapi ngga mau diskusi.

Padahal setiap konflik, hanya bisa diselesaikan dengan mencari solusinya, walaupun mungkin solusinya adalah didiamkan saja.

dan konon katanya; sebenarnya masalah tidak pernah benar-benar ada, masalah ada karena kita belum memilih atau menentukan solusinya. Ya iyalah, seluruh dunia juga tahu itu! Hehe

Kalau menurut saya begitu, bagaimana menurutmu?

***

Sudah jam 02:20, sekian! Mari merem lagi.

Ditulis setelah kebetulan sekali @kapitulis juga membahas tentang treatment ketika terjadi konflik. Silakan skrol-skrol di sini

Oh ya satu pesan lagi : Janganlah kamu marah, maka Surga bagimu.