Banyak hal baik di dunia, namun ada beberapa hal yang mesti dan wajib diterima.

Kecewa. Termasuk gagal, ditolak, kehilangan dan patah hati.

Tua, Sakit dan Meninggal.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan mengalaminya.

Sekeras apapun berfikir hal positif, dunia akan selalu menyajikan hal negatif.

Selantang apapun mensyukuri sisi manis, kenyataan selalu memiliki sisi pahit.

Benar. Kita perlu melatih diri untuk suka dan gembira. Namun ternyata ada yang lebih penting dan kadang terlupakan, menjadi tangguh untuk tidak sekedar menikmati hal suka, tapi kuat untuk hal duka.

Jadi, boleh saja kita menikmati indah pagi, tapi gelap malam akan tetap hadir.

Untuk yang sedang merasa kehilangan, sedang merasa sendiri, tanpa arah, merasa kecewa dan bahkan penuh sesal. Yakin! Bahwa itu semua adalah hal terbaik yang pernah ada.

Dari hal berat itu, masih ada pilihan untuk terus berjalan dan tidak untuk larut tenggelam.

Terus belajar untuk sadar; bahwa kita mesti menerima hal pahit dan menciptakan hal baik dari kepahitan itu sendiri.

Saya pun masih belajar…

Tak ada yang mudah dari sebuah perpisahan, dan ini adalah segelas teh terakhir buatan seorang kawan yang harus pergi berpisah.

Walaupun begitu kita sudah menyadari, bahwa semanis apapun pertemuan pasti akan ada saat untuk mengikhlaskan.

Sampai bertemu dilain kesempatan, semoga jumpa kita nanti kamu tak perlu membuatkan teh.

hari itu sengaja meminta teh, agar memberi semangat padanya.

Bersikap Tenang dan Tidak berbuat apa-apa adalah dua hal yang berbeda.

Pak Han dalam film the karate kids

Kadang diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam agar menjadi lebih tenang, agar lebih sabar atau agar lebih baik dalam mengambil tindakan.

Diam menahan rasa, mungkin itu adalah yang terbaik.


Bersama yang tersayang, tadi malam nonton film ini untuk kesekian kalinya, dan baru tadi malam juga menyadari ada sebuah pesan dari Pak Han.

Sebelumnya, kami (saya) ini adalah orang yang sebenarnya jarang sekali tampil di depan publik. Kami orang yang terbiasa dibalik layar komputer, namun kebetulan punya kesenangan yang sedikit sama, yakni bermusik.

Adalah ibu direktur yang secara tiba-tiba meminta kami untuk tampil akustikan di acara beliau. Mak deg tentunya dong. Kami yang tidak pernah main bersama langsung ditodong untuk main akustikan dalam sebuah acara. Padahal kalau saya gitaran saja jarang banget memainkan sebuah lagu secara lengkap dan sampai selesai.

Parahnya kami hanya punya waktu dua hari. Hari ini adalah Rabu, sementara harus tampil pada hari Jum’at.

Ya tapi tapi tapi mau gimana lagi, ini perintah atasan dan mau tak mau ya harus maju. Dengan berbekal sedikit keyakinan kami memulai latihan Rabu malam di rumah salah satu kolega yang super duper berbakat, serba bisa dan punya kelengkapan alat yang lebih dari cukup untuk kebutuhan perform.

Saya sendiri sudah lama sekali tidak main musik bersama-sama, sudah lama sekali tidak tampil di depan publik, intinya sudah lama tidak berkegiatan diluar kebiasaan sehari-hari. Perkara ini jelas erat kaitannya dengan kesehatan psikis yang hingga kini masih cukup sering menghantui.

Bagaimana mau perform main musik, untuk urusan mengendalikan kecemasan saja saya kewalahan setengah mati.

FYI, sudah dua tahun ini saya mengalami psikosomatis. Kalau terapis bilang saya mengalami Mental Exhausted. Efek yang timbul adalah rasa cemas yang sangat hebat ketika hendak melakukan sesuatu. Cemas ketika dalam situasi yang baru atau dalam keadaan tidak baik.

Adanya event manggung dadakan ini membuat rasa cemas bergejolak, sangat bergejolak. Saya sudah merasa tidak tenang semenjak mendapat kabar diminta untuk perform.

Gejalanya macam-macam, asam lambung naik pesat, badan menjadi panas dingin cenderung kedinginan, bedebar kencang yang lebih kepada rasa takut dan menyerah, yang jelas kecemasan ini mengganggu hingga kondisi fisik tentunya.

Beruntungnya saya memiliki teman-teman yang mengerti dengan kondisi ini, mereka memberikan banyak dorongan, meyakinkan saya untuk mampu melewati ini, dan yang jelas saya merasa memiliki teman dalam kondisi ketidaknormalan ini.

Sebelum fix sampai di hari H, saya sering sekali ragu untuk main. Bahkan tiap hari mengeluarkan pertanyaan “Eh ini jadi main?” Saking ragu-ragunya.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa hal sepele semacam ini menjadi berarti bagi seorang penderita dalam kondisi psikis lemah, yang cenderung butuh bantuan.

Jujur, saya memberi apresiasi tinggi untuk mereka yang memahami kondisi saya. Keluarga tentunya, kawan-kawan yang sudah sangat dekat, mereka sedikit banyak sangat membantu sekali.

Dalam sebuah sesi konseling, saya pernah diberi nasihat oleh seorang terapis; “Anda beruntung mendapat dorongan dan ditemani oleh seluruh anggota keluarga. Banyak sekali orang yang bermasalah psikis seperti Anda, namun pada akhirnya diacuhkan oleh keluarganya sendiri. Padahal seseorang yang menderita seperti ini adalah individu yang butuh bantuan.”

Saya bukan mengada-ada atau butuh perhatian. Namun yang jelas, saya benar-benar berterima kasih kepada kamu, kamu dan mereka yang telah banyak membantu dan selalu menemani. Semoga kalian selalu sehat.

So, hari itu Jumat, 26 Juni 2020, menjadi sebuah pencapaian terbaik dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini.

Selama proses persiapan ataupun saat tampil kemarin sempat membawa saya pada memori masa lalu. Merasakan kembali jiwa yang penuh yakin, sedikit liar tanpa takut dan sangat bersemangat.

Yang jelas, peristiwa ini sangat lebih dari hanya sekedar tampil bermusik. Ini adalah salah satu step terbaik dalam proses healing. Tampil di depan publik bukan hal mudah bagi penderita kecemasan.

Alhamdulillah mereka selalu meyakinkan saya untuk terus maju dan pada akhirnya mereka akan berkata “berhasil kan? Bisa kan?”.

Ini akan jadi bekal proses healing selanjutnya. Saya akan mengingat kejadian ini untuk lebih kuat menghadapi hal selanjutnya. Mengingat kalian juga tentunya.

Semoga lain waktu kita bisa bersama-sama main lagi!

Perkenalkan, mereka pemainnya.

Walaupun terdengar banyak kacau sana-sini tapi menyenangkan ya melihat dan mendengar hasil perform sendiri.

Terima kasih, teman.

Akhir-akhir ini Jogja sedang dirundung gelombang pesepeda. Muncul banyak sekali pelaku sepeda dimana-mana. Semua kalangan beramai ramai beraktivitas sepeda. Bahkan rewang yang membantu saya di rumah saja sudah mulai ikut kegiatan ini.

Karena pesatnya pertumbuhan pesepeda hingga akhirnya menimbulkan banyak pemberitaan yang semakin gencar juga. Seperti biasa, sesuatu yang baru dan booming pasti akan menimbulkan sedikit polemik sebagai bumbu gayeng kalau ngobrol di cakruk atau mention”an di Twitter.

Menurut saya, fenomena ini muncul karena rasa yang sama. Disaat semua kegiatan olahraga banyak yang lockdown, banyak yang mulai bosan karena kurangnya aktivitas di luar rumah, maka membuat individu secara naluri akan mencari sesuatu yang baru.

Bersepeda adalah salah satu pilihan paling menarik. Selain menjadikan sebagai media refreshing, bersepeda memberikan bonus olahraga yang cukup baik, kenapa saya sebut baik? Karena olahraga ini minim benturan dan paling sering memompa jantung, sangat cocok untuk menjaga stamina.

Lalu mulai banyak komunitas pitpitan muncul, minimal di lingkungan terdekat. Seperti di kantor, yang tiba-tiba sedang trends bike to work atau seperti paguyuban pit tetangga kampung yang mben Sabtu Minggu gowes cari sarapan.

Terciptanya kumpulan atau bahasa keren-nya adalah komunitas berawal dari kegiatan yang sama, pemikiran sama yang intinya adalah rasa yang sama. Sepakat?

Tidak ada yang salah dengan itu, semua ada waktunya, dan salah satu cara menikmati hidup adalah melakukan yang kita suka. Betul?

Seperti yang pernah saya tulis bersepeda juga srawung, kegiatan ini bisa menambah kedekatan bagi siapapun itu. Yang dulunya jarang bersenda gurau, kini setelah melakukan kegiatan yang sama jadi asik punya bahasan yang sama.

Mungkin juga yang dulunya tidak akur jadi malah berbaikan dan dekat karena memiliki rasa yang sama. Asik kan? Kalau sudah begini, maka panjang umur kebaikan dan teruslah berkawan.

Setiap kita butuh kawan yang sama. Sama-sama menyenangi hal yang sama, yang sama-sama mengerti apa yang sedang dialami. Yang paham jika saling membutuhkan, saling mendorong, saling mendengar dan bercerita. Saling mendukung ataupun asik berbagi.

Lihat sekeliling, yang biasanya bersama adalah mereka yang merasa sama. Mereka yang satu pemikiran, satu cara pandang, kesenangan yang sama dan bahkan karena pernah mengalami hal yang sama. Minimal kita memiliki pasangan yang selalu bersama.

Pelihara-lah rasa bersama dengan lainnya (dia), Jangan sampai hilang pada akhirnya. Karena salah satu pengobat hati adalah bisa berbagi dengan orang yang satu frekuensi, berbagi dengan mereka yang memiliki rasa yang sama.

Selamat menikmati kumpulan sepedaan, teman-teman. Pesan saya; walaupun naik sepeda, kamu harus tetap berhenti jika lampu bangjo berwarna merah!

Sekian dan apakah masih sama?

Bagi yang resah gelisah,

Bagi yang rapuh terkoyak dunia,

Bagi yang tak henti melawan dunia dan cemas,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang merasa sendiri,

yang harus kehilangan,

dan bahkan yang baru saja memiliki,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang belajar baik,

yang belajar memahami,

dan yang belajar mengerti,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang masih berharap,

yang masih merindukan,

dan yang masih membutuhkan,

Apa rencana mu, Tuhan?


Kita selalu berusaha berkomunikasi dan meminta Tuhan mendengar, tapi justru terkadang kita tidak sadar bahwa Tuhan sering mencoba berkomunikasi dengan kita”, melalui banyak pertanda, melalui banyak kesempatan, peluang dan melalui banyak hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Kita terlampau sibuk meminta dan bertanya,

Tuhan, apa rencanamu? bagi saya yang seperti ini,…

Jika ada kurir mengantar paket ke rumahmu. Cobalah sesekali balas mereka dengan memberi sebotol minuman sebagai pelepas lelah.

Niscaya syukurmu bertambah.

***

Melakukan kebaikan memang tidak harus diumbar. Namun menularkan kebaikan adalah kebaikan yang baik.

Terima kasih kamu, yang telah memberi sebuah pelajaran hari itu.

Kok ada ya yang buka jasa macam ini? Dan herannya, ternyata banyak juga yang membutuhkan jasa ini!

Akhir akhir ini memang saya banyak melihat soal literasi di linimasa. Ialah Zarry Hendrik, CEO dari kapitulis ini sering membagikan info perihal banyak yang menggunakan jasa rangkai kata. Lalu membuat saya kepo tentang ini itunya.

Kok bisa ya? Saya masih heran juga. Tapi ternyata memang merangkai kata itu tidaklah mudah. Misal, untuk menulis sebuah caption pada unggahan media Instagram saja, masih banyak yang kebingungan. Terkadang akhirnya hanya menulis no caption, vitamin sea atau apalah ngga jelas gitu yang dianggap cukup, misal.

Bagi sebagian orang caption ternyata sangat penting untuk menjaga citra bersosmed dan meningkatkan engagement.

Saya mencoba telusur apa saja sih jenis rangkai kata yang banyak dipesan, ternyata banyak juga jenisnya dan bahkan tidak melulu soal percintaan, kegalauan atau keresahan.

Jenis lainnya seperti rangkaian kata motivasi, melamar kerjaan, kata-kata untuk resign dan bahkan kata-kata untuk left dari group pun ada. Walaupun mungkin masih banyak yang rangkai kata soal hati ; melamar dia, kata rindu, kata maaf dan kegalauan lainnya.

Saya pernah mendapati juga, ada yang memesan kata untuk orang tuanya. Pesanan kata untuk kembali rujukan. Dan kata-kata itu berkerja dengan berhasil membuat rujukan terjadi! Luar biasa yah. Rangkaian kata bisa meluluhkan hati!

Memang ya, sebuah rangkaian kata itu terkadang bisa jadi magis, bisa membuat yang membaca merasakan atau membayangkan.

Pernah ngga sih kamu membaca sebuah cerita singkat, tapi kamu sampai membayangkannya? Nah itu magisnya.

Misal, sebuah deskripsi seorang wanita yang memiliki rambut panjang lurus dan hitam, dia lebih suka membiarkan rambutnya terurai, membuat aroma harum tercium pada disetiap kibasan rambutnya. Potongan cerita tersebut jika ditulis lebih dalam, bisa saja membuat sang pembaca membayangkan lebih jauh.

Misalnya lagi; “Hey kamu, aku rindu. Peluklah aku, tak perlu erat, longgar saja. Aku masih ingin bisa melihatmu dan tetap bernafas dengan baik.”

Sayangnya, saya tak pandai melakukannya. Pol mentok ya gitu-gitu aja, seperti halnya nulis caption yang copy paste, isinya hanya Ampas! semata.

Tapi asik juga ya kalau bisa membuat rangkaian kata gitu. Terlebih ternyata kegalauan dan keresahan bisa menjadi sebuah komoditi.

Buka usaha di bidang jasa memang tak ada matinya. Modalnya adalah ilmu. Tapi ya susah juga kalau ngga berilmu olah rangkai kata ini.

Apalagi rangkai kata ini kan sangat dekat sekali dengan plagiarisme. Bayangkan saja menulis pesanan kata rindu berkali-kali tapi tidak boleh sama satu sama lainnya. Haduh kalau ngga punya kamus kata yang banyak pasti bingung tuh. Ya ngga?

Atau gini, kondisi mood tidak baik tapi harus menerima pesanan kata-kata yang ber-mood baik, atau juga sebaliknya. Mumet kan?

Contohnya cuitan di bawah, apakah saat menulis itu ZH sedang merasa rindu? Membayangkan kejadian pelukan? Bagaimana dia bisa menuliskan kata itu sedangkan mood dia tidak berada di situ? Nah inilah kenapa jasa ZH sangat profesional.

Yah begitulah ternyata, saya masih heran juga soal ini. Tapi nyatanya banyak yang menggunakan jasa ini.

Beberapa orang sangat yakin bahwa sebuah kalimat dari susunan kata yang tepat mampu mendatangkan sebuah magis untuk para pembacanya.

Sekian dan mari menulis lagi.

Setelah kemarin sharing tentang tulisan “Kenapa Berteriak Ketika Marah?” Ada sebuah pertanyaan lewat private message yang cukup menarik buat dibahas, yakni “Kalau yang marahnya diam, bagaimana dong ?”

Cukup menarik, karena saya yakin untuk yang pernah melewati fase pacaran atau temenan deket, pasti pernah merasakan ini. Merasakan yang namanya konflik tapi diam-diam an atau malah cuek-cuekan.

Jika di tulisan sebelumnya dibahas bahwa kenapa orang berteriak saat marah? Karena hati mereka sebenarnya sedang saling menjauh, jadi mereka merasa harus berteriak dengan maksud pesannya tersampaikan.

Dalam tulisan ini saya tidak mau bahas tentang “yang marahnya diam” lebih dulu, tapi saya mau bahas; “yang diam ketika marah”.

Ada beberapa sudut pandang, asumsi menurut saya;

Alasan diam ketika marah, yakni mengambil waktu untuk menunda emosi, meredam konflik.

Diam untuk menyiapkan waktu dan tenaga menyelesaikan konflik pada saat dan cara yang tepat.

Diam untuk memberi ruang pada diri sendiri dan lawan marah untuk lebih tenang.

Diam disaat marah untuk memberikan waktu pada hati masing-masing untuk saling mendekat.

Yang parah adalah “Diam karena hati mereka sudah terpisah terlampau jauh, bahkan berteriak pun tidak membuat pesan marahnya tersampaikan, yang pada akhirnya memilih untuk diam.”

Yang jelas menurut saya, diam adalah salah satu cara yang baik untuk meredam amarah jika sedang berkonflik. Selain itu, saat marah ada baiknya kita duduk atau berbaring, bisa juga dengan mengambil minum dulu agar lebih tenang, bahkan pergi dulu saja dari lokasi konflik.

Hanya saja, terkadang yang kurang baik adalah “sudah diam tapi malah semakin memperdalam rasa marah, justru terjebak perasaan amarah.”

Sudah diam, tapi bukan untuk mencari solusi, malah kusut sendiri. Nah ini yang sebaiknya dihindari, cepat-cepat diselesaikan saja masalahnya kalau sudah begini.

***

Bagaimana dengan yang marahnya hanya diam aja?

Kalau pasanganmu modelnya gini, berarti Anda termasuk orang yang mau repot sekali, maunya diperhatikan tapi ngga mau diskusi.

Padahal setiap konflik, hanya bisa diselesaikan dengan mencari solusinya, walaupun mungkin solusinya adalah didiamkan saja.

dan konon katanya; sebenarnya masalah tidak pernah benar-benar ada, masalah ada karena kita belum memilih atau menentukan solusinya. Ya iyalah, seluruh dunia juga tahu itu! Hehe

Kalau menurut saya begitu, bagaimana menurutmu?

***

Sudah jam 02:20, sekian! Mari merem lagi.

Ditulis setelah kebetulan sekali @kapitulis juga membahas tentang treatment ketika terjadi konflik. Silakan skrol-skrol di sini

Oh ya satu pesan lagi : Janganlah kamu marah, maka Surga bagimu.

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya, “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”

Salah satu murid menjawab, “Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak.”

“Tapi, mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya? bukankah pesan yang ia sampaikan, bisa ia ucapkan dengan cara halus?” Tanya Sang Syeikh sambil menguji murid-muridnya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya Sang Syeikh berkata, “Bila dua orang sedang marah, hati mereka saling menjauh, untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar.”

“Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya, sebab jarak kedua hati semakin jauh.”

“Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta?” lanjut Sang Syeikh.

“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang lain, mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan, jarak antara kedua hati sangat dekat.”

“Bila mereka semakin saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara, mereka hanya berbisik dan mereka saling mendekat dalam kasih-sayang.”

“Pada akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik, mereka cukup hanya dengan saling memandang, sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut, “Jika terjadi pertengkaran di antara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh.”

“Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh, karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan bisa lagi ditempuh.” (Anonymous)

***

Sebuah kisah disampaikan oleh Muzammil Hasballah.

Akhir-akhir ini cukup sering berdiskusi tentang berkarya bersama kawan. Sepertinya kami sedang berada pada masa yang sama.

Dalam diskusi, kita seperti ingin membuat karya tapi pada saat yang bersamaan juga mengalami kebingungan karya yang bagaimana. Ingin membuat ini, ingin membuat itu tapi malah tidak dikerjakan semuanya.

Bagi saya sendiri ini adalah waktu di mana juga mengalami kebuntuan untuk membuat sesuatu. Sudah hampir tiga bulan belakangan ini tidak menelurkan sesuatu, tidak menciptakan sesuatu dari sebuah kesenangan yang biasa saya lakukan.

Terakhir berkarya apa ya? PetaArt, Alquran-Indonesia.id dan beberapa bot. Selain itu pun akhir akhir ini jarang melakukan maintenance terhadap aplikasi di akun Androlite, padahal ada puluhan app yang dulu pernah tercipta di sana.

Ayo kapan lagi membuat sesuatu? Membuat aplikasi? Kapan membuat website lagi? Kapan membuat video? Akun YouTube ini potensial tapi kenapa tidak mulai membuat? Lalu, kapan kamu mau merawat aplikasi-aplikasi mu yang sudah berjalan selama ini?

Hufh… Saya seperti masuk pada sindrom di mana keresahan, kemalasan tercampur dengan kelelahan. Yang akhirnya membuat produktivitas pun merosot.

Tapi kadang saya berfikir juga, mungkin ini saatnya beristirahat, setelah beberapa tahun terakhir belakang ini sangat mempeng membuat sesuatu.

Mungkin ini saat di mana saya perlu kembali melihat ke sisi lainnya, melihat sesuatu yang lain lalu kemudian kembali lagi untuk berkarya ketika semua sudah sesuai porsi nya.

Memang terkadang kita menginginkan banyak hal, ingin ini itu dalam satu waktu, Namun pada akhirnya kita juga tidak bisa memiliki semua hal itu. Kita harus memilih beberapa dari banyak itu untuk mulai dikerjakan satu per satu. Kalaupun pada akhirnya akan melakukan semuanya, pastilah itu perlu waktu dan proses yang tidak singkat.

Inilah saat di mana saya atau mungkin juga kalian sedang berusaha memecahkan kebuntuan. Memilih dari banyak keinginan, dan berfokus mengerjakan satu per satu.

“Kita tidak bisa menyelesaikan semua bersamaan dan sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan sesuai porsinya, satu per satu tentunya.”

Semoga tak lama lagi ada karya yang kita buat. dan jika itu sudah terjadi, maka nikmatilah prosesnya, karena itu bagian yang sangat menyenangkan.

Saya selalu percaya bahwa komitmen dan konsistensi selalu memberikan hasil yang baik ketika kita benar-benar membuat karya.

Selamat memecahkan kebuntuan, menemukan impian.

Sekian dan salam olahraga!

Yogyakarta, 6 Juni 2020. 06:15 WIB

Saya yang masih bingung

Siapa yang menduga kita mengalami kondisi seperti ini. Pandemi menyerang bumi, wabah COVID-19 yang bermula dari wilayah Wuhan, kini menyerang hampir seluruh belahan dunia.

Negara kita menjadi salah satu yang mengalami penderitaan wabah ini, walaupun mereka disana sempat sok-sok an Negara kita bebas wabah.

Tak ada yang menduga, negara menganjurkan kepada seluruh warga untuk berdiam di rumah, melakukan segala kegiatan dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah dan membatasi segala kegiatan di luar rumah.

Kita dipaksa, dihimbau atau diminta untuk tetap di rumah saja, bukan tanpa alasan, melainkan untuk membantu negara memutus rantai wabah ini.

Konon katanya salah satu kunci keberhasilan lepas dari wabah ini adalah warga diminta disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Mulai dari di rumah saja bagi yang bisa bekerja di rumah. Melakukan physical distancing dan menghindari kerumunan. Oh ya satu lagi, wajib menggunakan masker.

Hari berlalu, berganti minggu dan akhirnya berganti bulan. Jumlah pasien terpapar Covid-19 semakin meningkat, jumlah kematian pun terus meningkat, namun begitu Alhamdulillah ada yang mengalami kesembuhan.

Memasuki bulan suci Ramadan, segala kegiatan yang semula sudah direncanakan terpaksa ditiadakan dengan maksud membantu memutus rantai penyebaran virus.

Ramadan 1441 H/2020 ini berbeda, sangat berbeda. Tiada hingar bingar yang sering terjadi pada bulan suci ini. Kegiatan di Masjid seperti mati suri, antara ada dan tiada.

Hingga saat idul Fitri pun berbeda. Tak ada keriuhan mudik, tak ada kemesraan bertemu sanak saudara. Tidak ada jabat tangan kepada mereka yang saling merindukan. Tidak ada peluk erat kepada mereka yang harus kembali ke tempat masing-masing.

Tidak ada pertemuan di Idul Fitri ini. Moment lebaran seakan seperti hari-hari biasanya. Harus dari rumah masing-masing.

Saya sendiri tidak bertemu Orang tau dan saudara kandung secara langsung, namun kami saling memaafkan melalui media digital. Thank you technology.

Berbeda! Ramadan dan lebaran tahun ini tak sama, dan akan tercatat dalam sejarah dunia.

Semoga segala sesuatu lekas membaik.

Hari ini jum’at, sudah beberapa pekan ini saya tidak melaksanakan sholat jum’at. Iya, masa pagebug Covid-19 ini membuat benyak pembatasan kegiatan, termasuk sholat jum’at berjamaah.

Teringat sebuah cerita mengenai Peci atau ada juga yang menyebutnya dengan kopiah, kita sebut saja Peci ya, saya lebih suka kata ini.

Kenapa saya pakai peci saat shalat berjamaah? Jawabannya untuk melindungi penebangan liar yang tidak disengaja pada rambut saya.

Tahu ngga sih, bagi saya yang punya rambut tidak pendek ini terkadang mengalami kejadian lucu saat berjamaah, terlebih karena postur saya cukup tinggi, maka hal ini sering terjadi.

Kejadian lucu ini adalah; rambut saya sering terjepit kaki jamaah di depan, ini membuat tercabutnya helai rambut hingga akarnya, yang menyedihkan lagi adalah tercabutnya itu tidak hanya satu dua, tapi banyak uy….auto jadi tambah lebar jidat ini kan…ouhh.

Di beberapa masjid terkadang memiliki jarak sajadah yang tidak terlalu panjang, hal ini membuat orang dengan postur seperti saya ketika sujud harus sedikit memendekan badan. Hal ini sebenarnya bukan masalah, karena posisi sujud masih relatif nyaman dan yang penting tu’maninah.

Ada juga; jamaah di depan kita yang berdirinya malah agak mundur, tidak berada di batas sajadahnya atau kadang malah berada di belakang garis batas sajadah. Akhirnya posisi sujud saya semakin pendek. Ini sebenarnya bukan jadi masalah juga, karena saya masih bisa mundur sedikit pada saat ingin sujud atau semakin memendekan posisi sujud juga masih memungkinkan.

Nah yang jadi masalah adalah ketika jamaah yang berdirinya agak mundur tadi bergerak berdiri (dari sujud) lebih dahulu dibanding saya, kan ada tuh jamaah yang melakukan gerakan seketika imam bergerak (tidak menunggu imam menyelesaikan gerakan atau takbir).

Kejadian tecabutnya rambut itu terjadi pada kondisi ini, ketika yang depan sudah berdiri sementara saya masih sujud. Karena yang di depan berdirinya agak mundur akhirnya dia menginjak rambut saya yang terurai ke depan. Lalu ketika saya mulai berdiri, maka terjadilah gerakan seolah-olah menarik rambut dari kakinya, dan seketika itu pula terjadilah pencabutan rambut dari akarnya…aarrggh…

Rakaat selanjutnya tau sendirikan? saya harus melihat helaian rambut yang tercabut tadi di bawah kaki jamaah di depan. Ouch…Ouch…Sedih uy

Nah alasan inilah yang membuat saya kadang pakai peci ketika berjamaah, atau saya selalu berusaha di shaf terdepan jika tidak menggunakan peci.

Maaf untuk kalian yang terdampar ke website ini mencari informasi dasar hukum menggunakan peci saat sholat atau keutamaan shaf di depan. Anda mampir ke website yang salah hehehe.

Walaupun begitu menggunakan peci dan berlomba-lomba berada di shaf depan adalah yang hal yang baik dilakukan.

Sekian dulu cerita ini, ditulis hanya untuk membunuh waktu.

Menjelang sholat subuh, selepas bersantap sahur, Aila bertanya perihal profesi;

_ Pa, kapan tau ada kerjaan programmer? kapan ingin jadi programmer?

Sedikit bercerita, duhulu saya bahkan tidak tau akan jadi programmer. Lha wong kenal komputer saja baru saat masuk kuliah. Dulu kita ngga punya komputer, pakai komputer pun saat sekolah SMA, itupun kelas tiga menjelang lulus, karena sekolahan baru punya lab komputer saat itu.

_ Lalu kenapa bisa jadi programmer ?

Dahulu sebelum berangkat ke Jogja mencari kitab suci (sekolah), kakungmu cuma bilang; ada jurusan namanya informatika, katanya sih sedang banyak yang membutuhkan. Lalu saya coba deh mendaftar jurusan tersebut. Aila pun menjawab “ooohh…..”.

Lalu ….

Continue reading

Iya, kita semua tidak sedang baik-baik saja. Siapa yang menduga kita berada pada situasi seperti ini. Segala kegiatan dibatasi, kedekatan dipaksa untuk renggang, jabat tangan ditiadakan, keramaian pun dibubarkan.

Siapa yang mengira kita pada masa dimana kita sendiri tak tau kapan ini akan berakhir. Kita terkungkung takut, terbayang khawatir dan terhimpit keadaan.

Siapa yang tak cemas? tidak semua. Ada yang pandai menyembunyikan, ada yang pandai menguasai, bahkan mungkin ada yang pandai menasehati. Namun tahukah kamu? Ada yang susah setengah mati bergelut dengan cemas. Mengganggu pikiran hampir setiap saat, ketika baru membuka atau hendak menutup mata.

Beberapa waktu belakangan ini saya bermasalah dengan kecemasan. Kecemasan muncul ketika sakit asam lambung berkepanjangan, hingga LPRD yang berujung pada Anxiety. Katanya psikiater saya mengalami Mental Exhausted karena terlalu khawatir dengan penyakit.

Semenjak itu saya belum pernah merasakan keadaan normal seperti dahulu kala. Segalanya tampak mengkhawatirkan, membuat ragu bertindak hingga akhirnya menyerang kesehatan. Saya sering jatuh sakit, atau merasa sakit, walaupun secara fisik tampak sehat.

Terdengar sangat lemah memang, saya sendiri terkadang malu untuk membicarakan ini, bahkan mungkin ini adalah tulisan pengakuan pertama di sini.

Continue reading

Sekitar 15 tahun lalu saya kenal frasa ini dari seorang kawan, saat itu kami sama-sama sedang belajar membuat sebuah website. Kawan saya ini membuat design website dengan tagline verba volant,scripta manent. Sesuatu yang diluar pengetahuan saya. Perbedaan kami jelas, dia suka baca buku, sementara saya suka ngerusak buku, basis pengetahuan kami jelas berbeda jauh.

Verba volant, scripta manent adalah sebuah peribahasa dalam bahasa Latin. Secara harfiah peribahasa ini berarti “Kata-kata lisan terbang, sementara tulisan menetap.” Peribahasa ini berusaha mengatakan bahwa kata-kata lisan dapat dilupakan dengan mudah, tetapi tulisan-tulisan akan tetap ada.

Peribahasa ini tampaknya merupakan peribahasa lama yang dikutip dalam pidato Kaisar Titus di hadapan Senat Romawi.

Mulai sejak itu saya cukup mengerti apa arti istilah itu. Terkadang saya mengerjakannya dalam keseharian, apapun itu jika dirasa penting maka akan selalu saya cacat, bukan hanya diingat. Karena berharap pada ingatan manusia, maka akan ada saat dia melupakannya.

Sama halnya ketika membangun weblog ini, yang terfikir adalah tagline “Menyimpan Ingatan”. Karena saya sangat yakin bahwa lupa itu akan ada masanya muncul tanpa kita inginkan.

Jadi, seberapa banyak catatanmu? Bagaimana dengan catatan semua pekerjaan mu? Apakah sudah rapi? Bagaimana catatan hidupmu? Rekam jejak foto atau video? Masihkah rajin menulis jurnal atau cerita curhat?

Sementara itu bagaimana jika setelah menulis panjang lalu ter(di)hapus? Apakah hilang atau diingat? Atau ditulis ulang?

Seorang kawan bertumbuh hingga menjadi seperti sekarang, akhir akhir ini hanya berkabar lewat media maya. @mynamestillolly. Sehat sehat bung, kelak jumpa.

Seperti biasa skrol-skrol sosmed ngga jelas sambil mengembalikannya mood untuk beranjak dari pulau kasur.

Saat skrol YouTube, ada dua video musik yang menarik jempol saya untuk memilihnya. Video ini saya sebut musik baik, kenapa begitu? Pertama memang musiknya baik atau bagus, yang kedua lirik dan tujuan video musik ini untuk kebaikan.

Video pertama dari Makna Talks x Barry Likumahua dan musisi lainnya. Ini keren! Beneran. Lagu yang bertajuk tribute to Glenn Fredly ini asik banget.

Kedua musik baik ini tak kalah keren, dibuat oleh Dewa Budjana, dan kolaborasi dengan musisi-musisi lainnya juga. Musik baik ini memiliki komposisi notasi dan lirik yang cukup menyentuh. Pesan yang ingin disampaikanpun dalam sekali, mengangkat tema menghadapi masa pandemi ini.

Selamat pagi kamu, semoga kita selalu menjadi baik dari waktu ke waktu ya.

*gunakan earphone atau headphone ya*

Thank Allah SWT, Alhamdulillah.

Bertambahnya angka usiaku dan tentu berkurangnya jatah hidupku.

Alhamdulillah telah diberikan banyak hal. Mereka menyayangiku, mereka yang membahagiakan ku, yang selalu mengisi semangat di masa sulitku. Terima kasih keluarga ku.

Alhamdulillah aku bersyukur sampai pada titik ini. Segala cobaan dan kebahagiaan datang berganti, menjadi pengingat agar tak lupa untuk selalu bersyukur.

Ibu, Bapak. Sampai kapanpun dan bagaimanapun aku berusaha, takan mampu membalas apa yang kalian berikan padaku, itu adalah yang terbaik.

Ibu, selepas subuh tadi aku baca pesan yang engkau kirim, dan seketika itu juga berderai air mataku, aku tak mampu membendung rasa ini. Betapa aku merasakan besarnya kasih sayangmu padaku, dalam, sangat dalam, kepadaku dan kini kepada keluargaku. Terima kasih ibu yang selalu menemani dalam masa sulitku dan bahagiaku. Sehat sehat ya Bu. Maafkan aku yang hingga kinipun masih terus merepotkan mu. Ibu. I love so…

Terima kasih Mbak Osa. Istriku yang sangat sabar menemani ku, merawat ku dan anak-anak ku. Menjadikan aku selalu mengingat bahagia. Yang selalu memahami kondisiku.

Mari kita jalani ini, pelan-pelan tak apa ya? aku tak akan menyerah begitu saja.

Today is 28 April. Selain tanggal ini merupakan Hari Puisi Nasional, ini adalah hariku!

Thank God, Alhamdulillah