Gatal karena itu…

Jam menunjukkan hampir pukul 12 siang, sayup-sayup sudah terdengar suara adzan Zuhur dari gawai milik salah satu kerabat kerja.

Bagiku yang tetap harus masuk kantor walaupun dalam masa pandemi, ini adalah waktu yang tepat untuk ishoma, istirahat-sholat-makan. Maklum, tempat kerjaku berada di Rumah Sakit, yang konon katanya adalah tempat garda terdepan.

Ah, entah terdepan atau terakhir, yang jelas aku tidak pernah berhenti berharap kita selalu sehat dan tidak perlu ada istilah garda-gardaan yang hanya dijadikan gimmick semata.

Seperti biasanya, para kerabat kerja memulai istirahatnya dengan menuju ke kamar mandi alias toilet untuk membuang sesuatu dari tubuh atau mengambil air wudhu.

Jarak kamar mandi tidaklah jauh dari ruang kerja. Mungkin hanya perlu berjalan beberapa langkah keluar ruangan, lalu menyusuri lorong yang tertutup kanopi. Kamar mandi terletak di pojok bangunan setelah lorong tersebut.

Aku menuju ke sana seorang diri, hanya bertemu seorang teman yang sedang duduk di sebuah bangku yang terletak di lorong.

Sesampainya di lokasi, aku melihat ternyata semua kamar mandi sedang digunakan. Baiklah, aku menunggu.

Sebagai gambaran, terdapat dua kamar mandi yang berjejeran, berdempetan tentunya. Keduanya memiliki fasilitas sama, tidak ada beda. Hanya terdapat sebuah ember dan gayung di dalamnya. Tentu ada kran di sana, yang sesekali airnya tidak lancar, terutama jika musim kemarau.

Tidak ada yang aneh hari itu, hanya saja tidak seperti kemarin yang sangat cerah. Hari itu terlihat lebih mendung. Awan berwarna abu-abu terlihat berkumpul di beberapa bagian, sepertinya bumi akan diguyur hujan.

Entah kenapa aku merasa, “menunggunya kok lebih lama dari biasanya ya.” Hmm… “apakah karena waktu itu aku hanya menunggu seorang diri?” Biasanya kalau menunggu bersama teman, bisa sambil ngobrol kesana-kemari, hingga terkadang waktu menunggu terasa begitu cepat.

“Klekk kleeek…”

Suara kunci gerendel pintu sedang dibuka dari salah satu toilet yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

“Ahaa giliranku tiba!” Batinku.

Keluar seseorang dari toilet tersebut, sebut saja Bono. Bono adalah teman kerja, dia lebih senior daripada aku. Ia sudah menjadi punggawa di sini jauh sebelum aku masuk kantor ini.

Aku mengenal Bono berbadan subur, lebih mengarah ke gemuk dan bundar. Itu adalah penampakan beliau saat pertama kali aku bertemu dengannya, kira-kira tujuh tahun yang lalu.

Tapi kalau boleh cerita, Bono ini sempat kurus lho. Eh bukan kurus sih, tapi ideal. Beliau pernah berhasil mempraktekkan program diet OCD yang digaungkan oleh seorang yang menyebut dirinya sebagai mentalis. Kenapa saya bilang “pernah”? Karena saat ini berat badan beliau terlihat mulai kembali lebih berisi.

Tidak ada yang berbeda ketika Bono keluar dari toilet. Hanya saja ketika ia berjalan ke arahku, ia tampak sedang menggaruk-garuk bagian pinggang ke bawah sebelah kanan, sambil memperlihatkan wajah sedikit meringis kala itu.

Kenapa, Pak?” ujarku bertanya padanya.

ahh…nganu, ini gatel….” jawab beliau dengan wajah sedikit datar tanpa ekspresi.

Sambil berjalan melewati beliau menuju ke toilet, akupun tertawa “hahaha….hahaha…”

Alih-alih ingin menyudahi kelucuan, aku malah menyisipkan pertanyaan “…lho lho gatel kenapa tuh?…”

“…ini gatel karena karet sempak, Mas…” – timpal beliau.

“Gubraaaak….” Seketika semakin pecah kelucuan saat itu.

Kalau kata istilah Stand-up Comedy, “bit” nya lucu banget! Pun ikut tertawa terbahak-bahak seorang kawan yang mungkin secara tidak sengaja mendengar pembicaraan kami, terutama pada bagian “…gatel karena sempak…”.

Lho lho kok bisa karena itu, Pak? – tanyaku, masih sambil melangkah pelan mendekati pintu kamar mandi.

“….ini badanku sepertinya tambah gemuk lagi, jadi karetnya membuat gatel…” – ujar Bono sambil menoleh padaku, seolah-olah ingin meyakinkan; bahwa badannya yang bertambah gemuk, membuat karet sempaknya memberikan sensasi gatal pada pinggulnya.

“Bhuahahaha buahahahha….” Semakin menjadi-jadi tawaku.

Akupun terus masuk ke kamar mandi untuk meneruskan tujuan utamaku kemari dan yang secara tidak langsung memutus pembicaraanku bersama Bono di tengah kelucuan itu.

“Hahaha….hahaha”.

Thank Sir, for the jokes! Hanya dalam obrolan yang singkat, Anda berhasil membuat tawa di beberapa wajah.

***

Setelah kejadian itu, apa iya gatal bisa terjadi karena karet sempak? Kamu bisa bayangkan ngga sih, rasanya gatel pada bagian karet celana dalammu? Ha-ha-ha. Lalu, apa hubungannya dengan gemuk ya?

Hmm… Mungkin benar ya, karena badan bertambah gemuk, sehingga yang tadinya ukuran celana dalamnya pas, kini menjadi melar dan karetnya terasa mengencang di bagian pinggul. Nah mungkin itulah yang menimbulkan sensasi gatal pada bagian tersebut. Apakah begitu yang dimaksud? hehe.

Punya pengalaman dengan gatal karena karet celana dalam? Atau karet-karet lainnya? Coba cerita dong,…


Also published on Medium.

6 Comments

·

Leave a Reply

  1. Hahahaahahaha ini kayaknya betul deh karet bisa buat gatal 😂 meski pengalaman saya bukan karet underwear melainkan karet celana olahraga yang ada dibagian mata kaki ~ saya pernah pakai celana itu dan kebetulan karetnya press di kulit jadi terasa gatal ketika digunakan. So besar kemungkinan Pak Bono merasa gatal karena memang underwear-nya kekecilan jadi press pinggang 😆

  2. wkwkwk, memang ya karet kencang itu suka bikin masalah. Aku pun sering ngalamin ini di karet lengan. Rasanya emang paling nyaman kalau pake baju lengan panjang yg ujungnya ada karetnya. Jadi kalo ke dapur, tinggal singsingkan lengan tanpa perlu lipat-lipat.

    Eh, pas iseng kemarin itu beli baju daster gitu harganya lumayan karena dapat free ongkir pengiriman luar jawa. Pas dipakai, ya ampun itu karet lengannya kenceng banget, selain bikin gatal juga bikin sakit. bekas karetnya lumayan nih kayak abis di cap di baju saya itu. Akhirnya terpaksa baju itu disumbangkan deh, huhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *