Baik adalah seorang pria berperawakan tinggi, kurus, berkulit sawo matang dan berambut sedikit keriting. Baik adalah sosok yang rajin, ia tidak pernah mengeluh dan selalu melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Baik memiliki keinginan sederhana, yakni hidup baik, nyaman dan tentram.

Baik bukanlah seorang yang cukup beruntung pada masa kecilnya. Saat berusia 10 tahun, ia telah ditinggal ibunya. Baik tumbuh besar bersama bapaknya di tepian pantai, di sebuah gubuk kecil tua bersama dua adik perempuannya. Keluarga mereka sangat jauh dari kata berada.

Bapaknya adalah seorang nelayan yang pergi melaut pada malam hari dan kembali lagi di pagi hari. Selama ditinggal bapaknya, Baik harus merawat kedua adiknya, seraya berdoa agar bapaknya pulang dengan selamat pada pagi harinya.

Tempat berteduh mereka hanyalah sebuah gubuk kecil dengan sekat triplek, berlantaikan tanah dan beratapkan daun kelapa. Hanya ada tiga ruangan di gubuknya. Satu ruangan untuk tidur, satu lagi untuk kamar mandi dan satunya adalah ruangan untuk segalanya. Di ruangan yang terakhir itu semua kegiatan dilakukan; memasak, duduk-duduk, atau menyimpan barang, ya apapun itulah semua di sana.

Continue reading

Jauh sebelum tinggal di Yogyakarta, aku tumbuh besar di kota Banjarmasin. Namun, jauh sebelum itu, masa kecilku sempat mampir di kota Semarang. Semarang adalah kota kedua setelah aku dilahirkan, yakni Yogyakarta.

Tinggal di Semarang adalah secuil masa kecilku, aku mulai mengenal bangku sekolah dari kota tersebut. Dan dari sana lah keluarga kami tumbuh. Ada beberapa memori yang hingga kini masih melekat dikepala. Beberapa hal itu akan aku ceritakan padamu.

Di Semarang kami tinggal di rumah kontrakan. Terhitung dua kali kami berpindah rumah, sebelum akhirnya kami hijrah menyebrang pulau ke Banjarmasin.

Continue reading

Bryan adalah seorang laki-laki yang baru saja menyelesaikan pendidikan akademi militer. Seperti halnya seorang yang baru saja lulus sekolah dan masuk kerja, Bryan terlihat culun dan belum tampak gagah sebagai seorang anggota pasukan perang. Badannya masih kalah besar jika dibandingkan tas yang dicangklongnya, begitu juga celana panjangnya yang terlihat masih kedodoran. Kalau kamu ingat, dia lebih terlihat seperti kapten Amerika saat pertama kali masuk pelatihan pasukan, culun dan kurus.

Berbeda dengan Bryan, tokoh kedua ini adalah seorang laki-laki berwajah garang, terlihat sangar dengan janggut dan jambangnya yang lebat. Badannya lebih proposional. Dia adalah Omar Khan, bukan keturunan India, hanya kebetulan saja namanya Khan.

Continue reading

Jam menunjukkan hampir pukul 12 siang, sayup-sayup sudah terdengar suara adzan Zuhur dari gawai milik salah satu kerabat kerja.

Bagiku yang tetap harus masuk kantor walaupun dalam masa pandemi, ini adalah waktu yang tepat untuk ishoma, istirahat-sholat-makan. Maklum, tempat kerjaku berada di Rumah Sakit, yang konon katanya adalah tempat garda terdepan.

Ah, entah terdepan atau terakhir, yang jelas aku tidak pernah berhenti berharap kita selalu sehat dan tidak perlu ada istilah garda-gardaan yang hanya dijadikan gimmick semata.

Continue reading

“Blaaak….”

Suara bola lemparan dari Hanafi berhasil mendarat dengan manis di lengan Haris Fadilah, itu menjadi akhir dari permainan kasti dengan kemenangan tim Hanafi dengan skor 2-1.

Dari celah pintu yang terbuka, aku mencoba menengok jam yang tergantung di ruang guru. Oh pukul 09.25. Aku yakin, pak Bardi sebentar lagi akan memukul lonceng dengan irama khasnya.

Kami memang terbiasa memanfaatkan waktu istirahat yang hanya 30 menit ini untuk bermain kasti. Permainan yang cukup asik pada jaman itu, sangat jauh dari sentuhan teknologi pastinya.

Continue reading

Hey Saka! kita harusnya tidak lewat sini! ini semua karena mu, kini kita harus tersesat dan bingung harus kemana, kan!” – Itulah teriakan Tara kepada Saka yang berada di depannya.

Saka dan Tara adalah dua orang sahabat yang sedang menyusuri padang pasir tandus nan panas, mereka berkelana mencari sebuah desa yang konon menjadi pusat perdagangan.

Sepanjang perjalanan kedua orang ini sibuk berdebat. Memang, keduanya terkenal memiliki kesenangan berbicang banyak hal yang tak penting, bahkan sampai berdebat.

Alih-alih untuk mengisi waktu agar tidak bosan dalam perjalanan, debat mereka ibaratnya seperti netizen yang suka otot-ototan biscara soal politik, debat kusir yang tak ada akhirnya itu sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak dalam kehidupan masing-masing, hanya akan menghabiskan tenaga.

Continue reading

Menjelang sholat subuh, selepas bersantap sahur, Aila bertanya perihal profesi;

_ Pa, kapan tau ada kerjaan programmer? kapan ingin jadi programmer?

Sedikit bercerita, duhulu saya bahkan tidak tau akan jadi programmer. Lha wong kenal komputer saja baru saat masuk kuliah. Dulu kita ngga punya komputer, pakai komputer pun saat sekolah SMA, itupun kelas tiga menjelang lulus, karena sekolahan baru punya lab komputer saat itu.

_ Lalu kenapa bisa jadi programmer ?

Dahulu sebelum berangkat ke Jogja mencari kitab suci (sekolah), kakungmu cuma bilang; ada jurusan namanya informatika, katanya sih sedang banyak yang membutuhkan. Lalu saya coba deh mendaftar jurusan tersebut. Aila pun menjawab “ooohh…..”.

Lalu ….

Continue reading