“Blaaak….”

Suara bola lemparan dari Hanafi berhasil mendarat dengan manis di lengan Haris Fadilah, itu menjadi akhir dari permainan kasti dengan kemenangan tim Hanafi dengan skor 2-1.

Dari celah pintu yang terbuka, aku mencoba menengok jam yang tergantung di ruang guru. Oh pukul 09.25. Aku yakin, pak Bardi sebentar lagi akan memukul lonceng dengan irama khasnya.

Kami memang terbiasa memanfaatkan waktu istirahat yang hanya 30 menit ini untuk bermain kasti. Permainan yang cukup asik pada jaman itu, sangat jauh dari sentuhan teknologi pastinya.

Continue reading

Hey Saka! kita harusnya tidak lewat sini! ini semua karena mu, kini kita harus tersesat dan bingung harus kemana, kan!” – Itulah teriakan Tara kepada Saka yang berada di depannya.

Saka dan Tara adalah dua orang sahabat yang sedang menyusuri padang pasir tandus nan panas, mereka berkelana mencari sebuah desa yang konon menjadi pusat perdagangan.

Sepanjang perjalanan kedua orang ini sibuk berdebat. Memang, keduanya terkenal memiliki kesenangan berbicang banyak hal yang tak penting, bahkan sampai berdebat.

Alih-alih untuk mengisi waktu agar tidak bosan dalam perjalanan, debat mereka ibaratnya seperti netizen yang suka otot-ototan biscara soal politik, debat kusir yang tak ada akhirnya itu sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak dalam kehidupan masing-masing, hanya akan menghabiskan tenaga.

Continue reading

Menjelang sholat subuh, selepas bersantap sahur, Aila bertanya perihal profesi;

_ Pa, kapan tau ada kerjaan programmer? kapan ingin jadi programmer?

Sedikit bercerita, duhulu saya bahkan tidak tau akan jadi programmer. Lha wong kenal komputer saja baru saat masuk kuliah. Dulu kita ngga punya komputer, pakai komputer pun saat sekolah SMA, itupun kelas tiga menjelang lulus, karena sekolahan baru punya lab komputer saat itu.

_ Lalu kenapa bisa jadi programmer ?

Dahulu sebelum berangkat ke Jogja mencari kitab suci (sekolah), kakungmu cuma bilang; ada jurusan namanya informatika, katanya sih sedang banyak yang membutuhkan. Lalu saya coba deh mendaftar jurusan tersebut. Aila pun menjawab “ooohh…..”.

Lalu ….

Continue reading