in Blog

Bagaimana ceritamu ke Jogja?

Apa sih yang membuatmu berangkat ke Jogja? Iya aku tahu kamu melanjutkan kuliah di sini, tapi bagaimana kok kamu bisa memutuskan memilih Jogja? Apakah karena memang ingin kota ini atau karena sudah ada gambaran tentang sekolah selanjutnya? Lalu bagaimana ceritamu berangkat ke kota ini?

Jauh sebelum di kota ini aku tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Berangkat ke Jogja untuk melanjutkan kuliah adalah awal dari cerita-ceritaku di kota ini.

Jujur, aku tidak pernah punya gambaran mau melanjutkan kuliah di mana ataupun jurusan apa. Aku tidak punya gambaran seperti orang-orang yang pernah aku tanya sebelumnya. Misalnya ingin kuliah jurusan ekonomi, jurusan hukum atau jurusan bahasa. Aku tidak pernah ada pikiran tersebut.

Pokoknya dulu itu aku sekolah aja, nggak ada kepikiran apa-apa tentang kuliah. Entah memang aku terlalu fokus atau aku memang belum punya rencana masa depan yang baik. Hahaha…

Semasa SMA dulu, nama ujian akhir adalah EBTANAS. Nama tersebut kepanjangan dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Pada saat itu ada tiga mata pelajaran yang harus bernilai baik untuk dapat dinyatakan lulus. Yakni; Bahasa Indonesia; Matematika dan Bahasa Inggris. Masing-masing nilainya minimal 4.5.

Beberapa pekan menjelang ujian akhir, teman-teman sekolah berbondong pergi ke Jogja untuk mengikuti UM-UGM. Aku sendiri tidak mengikuti kegiatan tersebut. Bagiku tidak mudah untuk turut serta dalam kegiatan itu. Aku yang tinggal jauh dari Jogja, perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk berangkat kesana. Aku tidak ingin membebani ekonomi orang tua. Aku hanya berniat lulus ujian dulu, setelah itu bagaimanapun caranya aku akan berangkat ke Jogja.

Dari situlah keinginanku berangkat ke Jogja mulai tumbuh, yakni menjelang menghadapi ujian akhir nasional. Dalam benakku; selesaikan ujian akhir dengan baik, lalu berangkat ke Jogja untuk melanjutkan nasib, itu saja.

Aku adalah anak pertama, aku tidak punya gambaran atau contoh kakak yang kuliah duluan. Mungkin ini yang menyebabkan aku tidak pernah punya tujuan jelas mau kemana dan kuliah apa. Yang aku ingat; ketika aku hendak berangkat ke Jogja, bapak berpesan: Mas, sekarang ini ada jurusan yang sedang banyak dibutuhkan, yakni Informatika.

Aku belum mengenal jurusan apa itu. Membayangkan dari namanya saja aku rasa ini ada hubungannya dengan matematika, ouhh sepertinya akan sulit.

Bapak menjelaskan ini adalah jurusan komputer, yang mana nantinya aku bisa masuk kerja kesana kesini bla bla bla. Setelah tahu ini berkaitan dengan komputer aku semakin bingung. Aku tidak pernah punya komputer. Aku baru benar-benar mengenal komputer di SMA, yang beberapa saat sebelum aku lulus mereka baru memiliki laboratorium komputer. Itupun aku baru belajar Ms.Word dan Ms.Excel.

Aku berangkat ke Jogja menyeberangi laut jawa menggunakan kapal penumpang menuju Semarang. Sementara, perjalanan dari Semarang ke Jogja dilanjutkan melalui darat menggunakan motor Supra yang aku bawa dari Banjarmasin.

Perjalanan dari Banjarmasin ke Semarang memakan waktu 24 jam di atas kapal. Membosankan tentunya, tapi itulah perjalanan panjang menyeberangi laut jawa. Sepanjang perjalanan hanya garis carkawala yang terlihat di segala penjuru, sesekali kamu juga akan merasakan hepasan ombak besar.

Pernah nonton film di mana ada adegan antre makanan menggunakan nampan stainless steel? Nah! di atas kapal aku merasakan hal tersebut. Setiap jam makan, aku harus antri menggunakan nampan yang identik dengan para napi di penjara.

Aku tidak sendirian dalam perjalanan itu. Aku bersama mbah kakung yang kebetulan saat itu berkunjung ke Banjarmasin dan memutuskan pulang ke Jogja berbarengan denganku. Dengan kata lain perjalananku dari Semarang ke Jogja juga berboncengan dengan beliau.

Ini adalah kali pertama aku pergi jauh sendirian. Maksudnya tanpa bapak ibuku. Ini kali pertama juga aku pergi ke pulau jawa tanpa mereka. Biasanya aku hanya ke Jogja bersama keluarga saat lebaran, itupun kalau pulang.

Singkat cerita aku sampai di Jogja langsung menuju ke kampung halaman, Samigaluh Kulonprogo. Yang sekarang lebih terkenal dengan wisata kebun teh atau tumpeng menoreh. Aku sih lebih mengenal kampung halaman dengan makanan bernama “Geblek”.

Kost ku pertama kali di Jogja berada di belakang pasar Demangan, Gejayan. Itupun setelah beberapa waktu aku hanya numpang di kontrakan sepupuku yang sudah lebih dulu kuliah di Atmajaya.

Pengalaman pertama kali masuk kost agak terkejut. Aku masuk kost yang notabene ramai. Mereka sering begadangan dan gitaran di malan hari. Aku yang masih culun belum berani bergabung, cuma sesekali aja nongol. Lebih sering di dalam kamar.

Kost di sana nggak bertahan lama, aku lebih sering bolak-balik ke rumah simbah. Kurang lebih hanya satu bulan bertahan di sana, sebelum akhirnya dapat kuliah di daerah Kaliurang dan mencari kost di daerah tersebut.

Well. Itu sebagian cerita perjalananku ke Jogja. dan bagaimana aku memulai semuanya di sini.

Saat aku menulis ini simbah kakungku berusia 92 tahun. Beliau akan menapaki usia 93 di bulan Maret nanti. Sehat selalu ya mbah. Aku mencoba mengajak beliau cerita tentang ini, namun sayangnya beliau sudah tidak lagi mengingatnya.

Sebelum ingatanku berkurang seperti beliau, maka menulisnya di sini adalah caraku untuk tetap memiliki cerita dan sebuah legacy untuk aku baca dikemudian hari.

Lalu bagaimana ceritamu ? seberapa kamu masih mengingatnya?


Also published on Medium.

Write a Comment

Comment