in Blog

Kenapa Nasi

Beberapa minggu ini bapak tidak makan nasi. Sebagai pengganti karbohidrat beliau mengkonsumsi tales, singkong atau suwek rebus. Selain nostalgia masa kecil dulu, makan makanan ini menjadi terapi untuk mengurangi kadar gula. Sehat selalu ya pak! . Eh eh bentar, kamu tahu suwek kan? Tales ? mereka ini juga sejenis tanaman umbi-umbian yang bisa direbus. (Googling sendiri ya).

Aku bertanya. “Pak, bu. Hal apa yang teringat ketika memakan tales rebus atau suwek rebus?”. “Yaaa waktu dulu masih kecil makannya ya begini, belum bisa beli beras. Kalau mau makan biasanya nyari ini di kebon.” Ujar beliau sambil tertawa menghangatkan suasana meja makan sore itu.

Sore itu di meja makan tersedia ikan bakar. Sudah dua hari kami mengkonsumsi ikan bakar. Kami penggemar ikan bakar. Bukan ikan bakar yang digoreng terlebih dahulu, tapi ikan bakar yang benar-benar dibakar langsung. Tentunya lengkap bersama sayuran rebus dan sambel sebagai penggugah selera. eiits… bagian ini ngga usah terlalu banyak, ingat asam lambung. hehe.

Ngomong-ngomong soal bahan makanan pengganti nasi, aku teringat sebuah cerita dari salah satu ekpedisi yang ceritanya sedikit nyerempet tentang makanan pokok. Sambil asik mengunyah aku mulai bercerita;

Cerita ini tentang pembukaan lahan untuk keperluan lumbung padi dan industri. Cerita dari sebuah ekspedisi yang diliput di daerah timur Indonesia, Marauke tepatnya.

Tahun 2015, pemimpin negara menjalankan sebuah program pembukaan lahan untuk keperluan lumbung padi dan keperluan sumber energi, bernama MIFEE. Tidak tanggung-tanggung, lahan yang dibuka seluas satu juta hektar lebih. Seperti alasan yang digaungkan di program sebelum-sebelumnya, tanah di Marauke dinilai memiliki potensi yang besar untuk pembangunan proyek ini.

Tahu sendiri ya; di mana ada pembukaan lahan di situ ada penggusuran dan perusakan hutan. Upps… bukan perusakan, tapi alih fungsi lahan. (takut salah tulis, nanti kena ciduk). Dan setiap kali ada proyek yang sejenis ini selalu akan ada gesekan dengan warga lokal atau penghuni asli sebelumnya.

Konon sih hingga sekarang masih banyak warga yang melakukan penolakan. Sebelum lebih jauh ceritanya, aku tidak ingin menyoroti soal program ini atau bagaimana konflik yang terjadi karena hal tersebut. Aku mau bercerita dampak lainnya dari progam ini, tentunya berkaitan dengan judul di atas.

Kita kenal, Papua adalah salah satu yang tempat terbaik di dunia. Luar biasa hasil alamnya, pemandangannya, hutan yang menjadi salah satu sumber oksigen dunia, hingga hasil tambang yang menjadi sumber kehidupan banyak negara di dunia. Oh ya, aku belum pernah sampai sana, tapi sejauh yang aku tahu atau lihat mengenai Papua selalu luar biasa. Besok kita kesana? Ngga usahlah ya, kita duduk-duduk asik sambil cerita dulu aja ya.

Hasil bumi yang melimpah membuat para penghuni pulau tidak akan kehabisan stok untuk sumber kehidupan. Ikan berlimpah, bahan makan banyak di hutan. Coba tebak; apa bahan makanan pokok mereka? Yak betul, sagu! Mereka dengan mudah akan menemukan sagu di hutan, dan itu banyak sekali. Untuk mencari lauk pun mereka mudah, hasil ikan di sungai (laut) masih sangat banyak dan cukup.

Munculnya program satu juta hektar yang dihadirkan oleh negara ternyata tidak lantas membuat warga lokal ingin bergabung ke sana. Walaupun program tersebut akan menyerap banyak pekerja, ataupun bahkan menawarkan kesejahteraan yang berbeda. Buktinya masih ada warga yang kurang tertarik dengan program tersebut.

Kenapa begitu? karna pada dasarnya warga Papua bukanlah berasal dari budaya bertani. Merekapun tidak mengkonsumsi nasi sebagai makan pokoknya. Mereka tidak mengolah lahan untuk bertani. Budaya mereka adalah sagu, bukan nasi. Ini menjadi salah satu alasan kenapa program sejuta hektar pun belum tentu berdampak baik pada warga setempat.

Kalau padi kita tanam, kita garap, kita cangkul, bersihkan, baru setengah tahun bisa panen. Kalau sagu tidak begitu, hari ini tidak makan, hari ini kita tebang, pangkur, bisa dapat satu bola dua bola, itu bisa tahan hingga enam bulan untuk satu keluarga. ” begitu ujar salah satu sumber ekpedisi tersebut.

Sepertihalnya bapak yang akhir-akhir ini memilih mengonsumsi singkong, tales, suwek rebus. Warga Papua pun juga punya sagu sebagai bahan makanan pokok mereka.

Secara global, bahan makanan pokok kita sebenarnya beragam, ya kan? Jagung, singkong, sagu adalah deretan jenis bahan makanan pokok yang dari dahulu dikonsumsi oleh masyarakat.

Lalu kenapa kita memakan nasi? Apakah mungkin karena program seperti sejuta hektar itulah yang membuat kita terbiasa mengkonsumsi nasi? Yang dahulunya orang makan bahan pokok lainnya, akhirnya beralih ke nasi. Yang pada akhirnya membuat kita belum benar-benar kenyang jika belum makan nasi. Kok ngga ada lumbung selain padi sih? singkong, tales atau suwek gitu?

Ahh padahal jika lihat faktanya, orang jaman dulu (bapak ibu) kita makanan utamanya tidak hanya nasi. Lalu, apakah kamu mau mencoba mengganti nasi? hmm gimana ya, mau sih, tapi sepertinya tidak sekarang. hahaha

Lalu lalu apa kabar program MIFEE ? Masih jalan atau mati suri? entahlah… kalian cari sendiri infonya. Setahu aku sih malah saat ini akan ada lagi lumbung padi yang sedang digarap di daerah Kalimantan. Katanya sih proyek tersebut dipimpin oleh mentri pertahanan, eh kok bukan mentri pertanian sih? …. ahh ngomong apa sih ini, ngga jelas. Fokus pada cerita soal bahan makanan tadi aja ya.

Sampai jumpa dicerita selanjutnya! Salam lestari!

Kalau kamu mau menyimak ceritanya sendiri, silakan meluncur ke YouTube dengan keyword ini “THE MAHUZEs”

Write a Comment

Comment

  1. Suweg bukan suwek. Huruf “E” dieja seperti pada kata “empat” bukan “tape”.
    Sekian terima kasih.