Berikan

Berawal dari pelihara ikan hias di aquarium, aku ingin menantang diri untuk memelihara ikan yang bisa dikonsumsi. Kebetulan aku punya sebuah tandon 350ml yang tidak terpakai, dari pada cuma nganggur, ngide dong mau pelihara ikan di dalam situ. Siapa tahu penemuan dan pengalaman. Ya ampun ada-ada saja yak.

Jadilah suatu Minggu di akhir Agustus aku mengajak mereka ke pasar ikan untuk kulakan anakan. Oh ya, dalam perjalanan itu aku meminta Ai untuk take video perjalanan yang aku gunakan di video gitaran Asmalibrasi.

Baru pada tahap beli bibit ikan, aku sudah mendapatkan pengalaman baru. Ternyata beli anakan ikan di pasar yang aku kunjungi ini bukan dihitung per ekor ataupun kiloan. Tapi beli nya per cangkir! Whaatt??? Iya pakai cangkir! Aku sempat kaget dong waktu mendapatkan jawaban dari penjual, “ini harganya per cangkir, mas”.

Kamu tahu cangkir kecil warna coklat terbuat dari plat besi? Kamu coba gugling aja pakai keyword itu pasti nemu. Nah anakan ikan dijual per serokan cangkir itu. Satu cangkir harganya 10 ribuan, sekali serok pakai cangkir itu mungkin dapat sekitar 12-15 anakan ikan yang kecilnya sejari kelingking atau telunjuk manismu.

Sore itu aku beli 3 cangkir, aku kira ini sedikit, ternyata banyak juga. Setelah dihitung ada 43 anakan ikan dengan ukuran yang variatif. Hmm tak lupa aku beli pakan ikan sekalian. Karena belum pengalaman, aku tanya sama orang di sana juga. Ini pakannya apa ya? “Pakai pelet aja mas, beli di warung seberang itu”.

Kita pulang dan mulai mengisi tandon yang dulunya dipakai untuk penampungan air sehari-hari, aku jadikan kolam ikan nila! Ya semua antusias dong karena ada hal baru mau kita coba. Ada harapan terbesit; semoga ikan ini kelak tumbuh besar dan jadi konsumsi disaat ingin mengunyah ikan. Hehe

Mulai hari itu kebiasaan pagi dan soreku bertambah. Sebelum berangkat kerja aku menengok kolam itu sambil melempar pakan disana. Begitu juga sore hari selepas pulang bekerja. Selain itu setiap satu pekan harus membersihkan kolam, belum lagi kalau kotor, bisa 3 hari sekali ganti air. Banyak aktivitas bertambah deh.

Awal-awal pelihara, ikan pada stress dan betumbangan. Aku menyadari ini bakal terjadi. Akan ada ikan yang bermatian dan akan timbul banyak problematika.

Problematika utama yang muncul adalah kualitas air harus yang harus selalu dijaga. Namanya juga ditandon yah. Sistem filtrasi jelas ngga ada. Belum lagi memikirkan kebutuhan oksigen dalam air. Tentu ikan kalau mau sehat semua elemen itu harus tercukupi dong, selain soal pakan yang cukup. Beda cerita kalau pelihara lele, semakin pekat airnya maka semakin sehat ikan-ikannya.

Jadilah aku mulai melengkapi kebutuhan filtrasi, ngide lagi dong, beli filtrasi ikan yang cukup memadai, tentu dengan pompa yang mencukupi ukuran tandon. Haeessh…

Sebulan pertama ikan pada mati satu persatu. Bahkan tiap hari ada saja ikan mati. Setiap kali pulang kerja, yang aku dapati adalah berita kematian ikan. Hingga tertinggal 8 ekor ikan. Bayangkan berapa banyak yang mati! Hiks hiks… Tapi ya sudahlah, setidaknya aku berusaha memelihara sebaik-baiknya yang aku bisa.

Akhirnya, kemarin aku memutuskan untuk mengambil semua ikan di sana. Kurang lebih tiga bulan aku memelihara mereka, aku rasa sudah cukup. Sudah cukup mendapatkan cerita dan pengalamannya. Seperti pada umumnya; memelihara memang tidak selalu mudah. Banyak hal yang perlu di ini itu.

Tentu saja ini bukan soal hasil, bukan tentang untung atau rugi dari cost yang dikeluarkan. Walaupun hanya 8 ekor yang berhasil hingga terkonsumsi, aku merasa cukup senang dengan apa yang aku torehkan. Aku puas dengan kegiatan memelihara ini. Aku dapat ceritanya dan dapat pula deritanya.

dan pada akhirnya, pada suatu malam aku menikmati ikan hasil peliharaan sendiri dan sayur dari hasil kebun sendiri. Inilah cukup menjadi sebuah cerita bagiku.

Selesai dulu ya…

2 Comments

·

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *