Mas Baik

Baik adalah seorang pria berperawakan tinggi, kurus, berkulit sawo matang dan berambut sedikit keriting. Baik adalah sosok yang rajin, ia tidak pernah mengeluh dan selalu melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Baik memiliki keinginan sederhana, yakni hidup baik, nyaman dan tentram.

Baik bukanlah seorang yang cukup beruntung pada masa kecilnya. Saat berusia 10 tahun, ia telah ditinggal ibunya. Baik tumbuh besar bersama bapaknya di tepian pantai, di sebuah gubuk kecil tua bersama dua adik perempuannya. Keluarga mereka sangat jauh dari kata berada.

Bapaknya adalah seorang nelayan yang pergi melaut pada malam hari dan kembali lagi di pagi hari. Selama ditinggal bapaknya, Baik harus merawat kedua adiknya, seraya berdoa agar bapaknya pulang dengan selamat pada pagi harinya.

Tempat berteduh mereka hanyalah sebuah gubuk kecil dengan sekat triplek, berlantaikan tanah dan beratapkan daun kelapa. Hanya ada tiga ruangan di gubuknya. Satu ruangan untuk tidur, satu lagi untuk kamar mandi dan satunya adalah ruangan untuk segalanya. Di ruangan yang terakhir itu semua kegiatan dilakukan; memasak, duduk-duduk, atau menyimpan barang, ya apapun itulah semua di sana.

Baik tidur bertiga besama kedua adiknya di kamar. Sementara bapaknya tidur di sebuah kursi kayu panjang yang ada di ruangan segalanya.

Untuk penerangan mereka menggunakan lampu teplok. Sebuah lampu tempel bersumbu yang menggunakan bahan bakar minyak. Hasil penjualan tangkapan bapaknya hanya cukup untuk membeli beberapa liter minyak yang digunakan untuk bahan bakar lampu tersebut.

Untuk memasak, mereka memakai kayu. Tidak ada kompor apapun, hanya ada perapian kayu. Tidak heran jika banyak jelaga terlihat di rumah mereka, atapnya saja sudah hitam pekat karena sisa-sisa pembakaran.

Sedari kecil Baik sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Tidak jarang juga Baik harus rela mengorbankan saat bermainnya demi membantu bapaknya dan merawat kedua adik perempuannya.

Walaupun kondisi mereka seperti itu, Baik adalah sosok yang selalu bersemangat. Ia selalu menyempatkan untuk belajar dan membaca. Baik mengikuti kegiatan dari sebuah lembaga yang menyediakan wadah belajar bagi anak-anak seperti Baik. Dari sanalah ia mengenal buku dan belajar mengenal dunia.

Selepas adik-adiknya tidur, Baik selalu menyempatkan diri untuk membaca, dia sangat suka dengan buku. Bahkan stok minyak cepat habis gara-gara sering digunakannya sebagai penerangan hampir sepanjang malam. Tidak jarang juga ia diam-diam pergi ke depan rumah tetangga yang memiliki lampu listrik, hanya untuk duduk di bawah lampu sambil membaca.

Akibat dari kegemarannya dalam membaca, Baik diberi kesempatan untuk mengikuti ujian masuk sekolah khusus. Ujian ini hanya diberikan kepada anak yang memiliki keinginan kuat, namun kurang beruntung untuk dapat bersekolah.

Bukan sebuah kejutan, Baik berhasil melewati ujian dengan sangat mudah. Kebiasaan membaca dan rasa ingin tahu yang tinggi, membuat dia memiliki bekal ilmu yang lebih dari cukup untuk melalui ujian tersebut.

Bak sebuah oase di padang pasir. Selepas melewati ujian, Baik mendapatkan banyak beasiswa untuk melanjutkan studinya hingga pada level yang ia inginkan.

Hari ini Baik menyelesaikan studi dari sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Ditemani dua adiknya, ia berjalan tegap mengikuti wisuda. Baik sudah tidak sabar menunggu namanya disebut sebagai pemilik nilai terbaik di acara tersebut. Sungguh luar biasa. Sayangnya, sosok hebat yang berjuang untuknya tidak bisa hadir di acara itu. Bapaknya telah tiada, tiga bulan sebelum Baik menyelesaikan masa studinya. Jikalau bapaknya masih ada, pasti ia tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Selepas acara tersebut, Baik bersama adik-adiknya saling berpelukan. Meluapkan rasa haru yang berkecamuk dalam dada. Baik menatap wajah mereka sambil berkata: Semua akan baik-baik saja, kita hanya perlu berusaha menjadi lebih baik lagi.

***

Selesai, mungkin bersambung…


Also published on Medium.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *