Semarang : Anjing Pak Topo

Sebelum memulai membaca, kamu bisa ketuk tombol mainkan pada spotify di bawah.

Jauh sebelum tinggal di Yogyakarta, aku tumbuh besar di kota Banjarmasin. Namun, jauh sebelum itu, masa kecilku sempat mampir di kota Semarang. Semarang adalah kota kedua setelah aku dilahirkan, yakni Yogyakarta.

Tinggal di Semarang adalah secuil masa kecilku, aku mulai mengenal bangku sekolah dari kota tersebut. Dan dari sana lah keluarga kami tumbuh. Ada beberapa memori yang hingga kini masih melekat dikepala. Beberapa hal itu akan aku ceritakan padamu.

Di Semarang kami tinggal di rumah kontrakan. Terhitung dua kali kami berpindah rumah, sebelum akhirnya kami hijrah menyebrang pulau ke Banjarmasin.

Salah satu hal yang aku ingat dari rumah adalah di bagian depan pojok rumah terdapat sumur. Bapak atau Ibu sering menimba air dari sana. Aku sendiri lupa, apakah aku pernah ikut menimba atau tidak. Kalaupun pernah, sepertinya sangat jarang karena aku masih terlalu kecil untuk melakukannya.

Aku pernah terjatuh di teras rumah. Aku jatuh tertelungkup, hingga membuat bagian dagu terkoyak. Aku pikir itu luka biasa, tapi ternyata Ibu harus membawaku ke rumah sakit untuk dijahit. Kini luka itu masih bisa ditemukan di dagu, walaupun sekarang lebih sering terselimuti oleh janggut.

Hal lain yang tersimpan dalam ingatanku adalah saat adikku lahir. Bapak atau Ibu mengubur ari-ari nya di lorong jalan setapak samping rumah, ditutup sejenis wadah dan diberi lampu bohlam berwarna kuning sepertihalnya kurungan ayam.

Ada sebuah pasar yang sering dijadikan patokan tempat tinggal kami, pasar tersebut bernama Jatingaleh. Di pasar tersebut ada kenangan yang masih aku ingat, yakni dari sanalah aku mengenal bakmi. Bapak yang merupakan penggemar berat makanan ini sering mengajakku menyantap bakmi di salah satu warung bernama “Bakmi Pak Hendro”.

Perihal sekolah, aku memulai mengenal bangku sekolah di kota tersebut. Walaupun hanya terlewati hingga kelas dua SD, setidaknya ada dua nama yang masih tersimpan dalam ingatanku; yang pertama adalah Nurul dan yang kedua adalah Joko.

Nurul adalah teman TK yang aku mengingatnya sebagai pasangan ketika karnaval. Sayangnya, hanya bagian itu yang kuingat, selebihnya aku lupa semua.

Joko, dia adalah teman lari saat bel pulang berbunyi. Joko ini seorang murid dengan perawakan pendek namun berotot. Kaki dan tangannya terlihat lebih berotot jika dibandingkan denganku yang kurus kerempeng.

Joko seorang pelari yang cepat dan pelompat jarak jauh handal. Dalam sesi olahraga, dia selalu menjadi pesaingku. Aku cukup sering berlomba dengannya.

Aku pernah berkunjung ke rumahnya, dan dari situlah aku mengetahui ternyata Joko hanya tinggal bersama neneknya. Itulah Joko.

Pak Topo adalah tetangga kami. Rumahnya berada di ujung depan gang. Sementara rumah kami berada hampir di bagian belakang gang.

Untuk menuju ke sekolah ataupun pergi ke jalan besar, rute terpendek harus melewati rumah beliau. Sebenarnya ada jalan lain, namun jaraknya cukup jauh.

Melewati rumah beliau sebenarnya bukanlah sebuah masalah berarti, yang jadi masalah buatku adalah pak Topo memelihara seekor Anjing. Dan dari situlah ada sebagian cerita yang masih kuingat hingga sekarang.

Pak Topo mempunyai kebiasaan yang usil padaku, entah itu candaan atau memang tidak suka. Setiap kali aku lewat depan rumahnya, dia selalu menyuruh sang anjing untuk mengejarku.

Pernah suatu ketika aku harus melewati rumah beliau. Dari kejauhan aku sudah mencuri pandang apakah Pak Topo dan sang anjing berada di depan atau tidak. Dan benar saja, saat itu Pak Topo sedang duduk santai di teras, sementara sang anjing sedang rebahan di lantai sambil menjulurkan lidahnya.

Pak Topo yang melihatku hendak melintasi rumahnya, langsung melempar senyum padaku, sambil menyuruh sang anjing yang tiba-tiba berdiri untuk mengejarku. Sontak! aku lari, lari dan lari. Sang anjing mengejarku hingga hampir sampai ke rumah, sebelum dia tiba-tiba berhenti lalu kembali.

Setelah menunggu beberapa saat, aku mencoba untuk melewatinya lagi , dan anjing itu tetap saja mengejar. Begitulah kejadiannya, hingga lebih dari tiga kali, sebelum pada akhirnya aku mencoba jalan keluar lain.

Aku melihat ada motor terparkir di seberang rumah pak Topo, aku berfikir jika bisa berlari cepat ke balik motor tersebut, mungkin aku bisa bersembunyi dan mengelabui sang anjing.

Baiklah, aku memulai rencana itu. Aku berhasil berlari hingga di balik motor tersebut. Sang Anjing berada di sisi lainnya, tepat berseberangan dengan posisiku. Sayangnya, gerakan anjing masih terlalu cepat bagiku. Awalnya aku berharap bisa mengelabuinya dengan bersembunyi di balik motor, ternyata itu belum berhasil. Dia berhasil membuatku takut dan akhirnya harus kembali mundur.

Beberapa kali percobaan membuatku semakin lelah, dikejar Anjing membuat andrenalinku naik dan keringat bercucuran. Akhirnya, aku terpaksa mengambil jalan lain yang lebih jauh. Aku harus mengelilingi desa untuk dapat menuju tujuanku.

Cerita ini mengenalkan kekhawatiran setiap kali bertemu anjing. Ada rasa bergetar setiap kali melihat hewan ini, seperti saat aku menatap matamu. Walaupun begitu, kejadian ini sudah melatihku, hingga berani beradu lari dengan Joko.

Memang Anjing Pak Topo. *tolong dibaca tanpa intonasi atau penambahan tanda baca lainnya*

Itulah beberapa cerita tentang secuil masa kecilku di Semarang. Tidak banyak, tapi masih teringat, walau samar. Sebelum semua ingatan semakin luntur, tulisan ini akan menjadi tempat aku mengingatnya.

Terima kasih telah membaca…

Sampai jumpa

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *