in Blog

Keluarga Para Ahli

Berkumpul dengan insan baru selama beberapa bulan jelas membuat kami saling mengenal dan saling bertukar bercerita. Banyak hal yang aku pelajari dari mereka, banyak hal pula yang telah mereka lakukan untuk kami.

Kali ini aku akan bercerita tentang mereka, menulisnya sebagai pengingat bahwa mereka pernah ada dalam prosesku membangun mimpi. Mereka adalah keluarga para ahli. Orang-orang yang piawai dalam membangun rumah. Kita biasanya mengenal mereka dengan sebutan tukang, namun kali ini sebut saja mereka dengan diksi para ahli.

Mereka berjumlah delapan orang. Satu orang sebagai pemimpin dan yang lain adalah anggota. Mereka semua masih satu keluarga dan kerabat yang tidak jauh. Broto adalah pemimpin mereka. Selain mungkin karena yang paling berpengalaman, dia memang yang paling senior dari lainnya. Broto bernama lengkap Subroto, namanya memang hanya satu kata. Itu aku ketahui dari nama terang pemilik rekening yang aku gunakan sebagai tujuan pengiriman dana pembangunan.

“Mas Broto,” begitu aku memanggilnya. Muncul dengan perawakan tidak kurus dan tidak juga gemuk. Kulitnya tidak putih dan tidak pula hitam, seperti halnya para ahli bangunan. (maaf ini bukan rasis). Rambutnya seperti tidak pernah panjang, kruwel-kruwel. Ada kumis di wajahnya. Muncul pertama kali selalu dengan kupluk di kepalanya. Ini membuat ciri khas sendiri di mata Aya, anakku yang kedua. Tiap kali melihat kupluk, Aya selalu berkata “seperti pak tukang”.

Mas Broto adalah sosok yang mengatur segalanya. Yang melakukan kalkulasi, merancang ini itunya. Tempatku menyampaikan keinginan dan ketidakinginan. Pokoknya beliau adalah ujung tombakku. Sosoknya bijaksana, memberi banyak solusi saat diskusi dan yang aku suka adalah beliau cukup fleksibel dengan perubahan-perubahan yang aku minta.

Yang kedua adalah Amri, dia adalah adik dari istrinya mas Broto. Secara sederhana dia adalah adik iparnya. Amri sosok yang kecil, tidak tinggi, berkulit sawo matang, cenderung terlihat kurus. Amri sangatlah friendly dengan anak-anak, cukup sering menyapa Aya dan Aila, begitu pula anak-anak lainnya. Amri paling nyentrik dalam berpenampilan, ketika berkerja dia memakai topi Sino Sidin bak pelaku seni. Tapi memang menurutku mereka adalah seniman dalam dunianya.

Sayangnya, Amri tidak turut sampai selesai dalam proses pembangunan ini, dia harus berhenti karena ada sebuah kecelakan kerja pada bulan ke empat. Dia terperosok ke dalam lubang yang dia buat sendiri untuk pondasi. Kakinya bengkak, seperti terkilir yang membuatnya harus istirahat dari bekerja.

Selama berkerja Amri menjadi laden. Kerjaannya cenderung di bawah. Lebih banyak meladeni, seperti membuatkan adonan semen, mengambilkan ini itu, hingga membuatkan teh atau kopi untuk yang lainnya. Kehilangan Amri menjadi kekurangan yang cukup terasa, terlebih dia sosok yang humoris, yang membuat suasana kerja menjadi menyenangkan.

Selanjutnya adalah Tri, dia lebih dikenal dengan nama Kotrek. Tri ini agak ndugal, tapi untuk urusan pekerjaan dia top banget, sat set bat bet. Ini salah satu tipe orang yang aku suka. Agak bandel, tapi kalau urusan pekerjaan sangat profesional.

Tri merupakan kakak kandung Amri, namun perawakannya tidak sama seperti Amri. Dia cenderung lebih tinggi, walau badannya juga tidak besar. Tri ini salah satu anggota yang sering ngobrol denganku, dia bisa bercerita pengalamannya saat dahulu nakal-nakalnya. Pernah berkelahi sama si ini dan si itu, pernah digigit ular di sini dan di situ. Pernah begini dan begitu, bahkan dia bercerita kalau sekarang ini punya istri lebih dari satu. Haha.

Taufik adalah suami dari adiknya Amri dan Tri. Taufik adalah sosok diluar garis darah langsung dari dua orang yang aku ceritakan di atas. Dia adalah ipar dari mereka. Taufik ini berperawakan lebih berisi dibanding lainnya, tapi tidak gemuk. Badannya cukup berisi, namun soal ukuran kaos dia tetap memilih ukuran M.

Menurut cerita, Taufik ini aktif dalam kegiatan kesenian di tempat tinggal mereka. Beberapa kali ijin tidak masuk karena kepentingan kegiatan tersebut. Aku cukup sering berbagi canda tentang sepakbola bersama dia, terutama saat turnamen euro berlangsung. Sejak awal dia jagoin Italia. Selamat ya bro, jagoanmu jadi juara!

Jerry. Aku sebenarnya ngga yakin bagaimana menulis namanya. Apakah double R seperti itu atau hanya Jeri tanpa double R dan hanya menggunakan huruf i. Sejak awal Jerry adalah sosok yang tidak banyak bicara. Diam saja dan sat set bat bet dalam bekerja. Aku tidak banyak bicara personal sama dia. Simbahnya Jerry adalah kakak beradik sama simbahnya Amri, Kotrek dan istrinya Taufik.

Temon, tentu ini bukan nama sebenarnya. Sama seperti Kotrek yang punya nama asli Tri. Temon juga punya nama asli, yakni Trias. Di sini dia lebih dikenal dengan nama Temon. Ada cerita di balik itu, nama temon katanya disematkan karena dia pernah beberapa kali hilang di laut dan kemudian ketemu lagi. Temon sendiri dalam bahasa Jawa berarti bertemu, ketemu, atau penemuan.

Oh ya, mereka semua ini berasal dari kabupaten Gunung Kidul, rumah mereka lebih dekat ke Pantai. Jadi wajar jika mereka sering main ke laut. Aku sudah pernah berkunjung ke rumah mereka, dan memang tidaklah jauh dari garis pantai. Temon ini berperawakan tidak tinggi, berkulit hitam dan yang jelas punya ciri khas yakni piercing di telinga dan tato di lengannya. Hubungan keluarga? Dia berasal dari kerabat Ibu nya Amri. Temon menyebut “Lik” kepada Amri, Tri, juga Taufik.

Birin. Aku tidak tahu nama aslinya, namun sepertinya Sobirin. Sesuai namanya, secara islami adalah kesabaran. Birin adalah sosok yang pendiam, sabar dan telaten kerjanya. Jauh lebih pendiam dari Jerry. Sejak awal mulai bekerja sampai selesai dia tetap begitu.

Mungkin memang karena sifatnya yang pendiam atau sungkan ya. Aku tidak begitu tahu dia secara personal, namun kalau hubungan saudara; Birin adalah adik kandung mas Broto. Birin menjadi satu-satunya yang tidak tinggal di Gunung Kidul. Birin tinggal di Magelang. Tiap hari dia pulang, tidak bermalam di rumah. Kalau orang jawa bilang itu “nglaju“.

Yang terakhir adalah Soni. Dia adalah menantunya Mas Broto, orang pertama yang aku ceritakan dalam tulisan ini. Soni merupakan pemain baru dalam dunia pembangunan, yang pengalamannya masih sedikit jika dibanding lainnya. Walaupun begitu kerjanya juga luar biasa sat-set-bat-bet!

Seperti Birin, Soni juga salah satu yang pendiam, tidak banyak bicara dan bercanda. Kalau kata ibuku; wajah dia yang paling imut. Mungkin karena masih paling muda ya. Awal-awal mulai proyek ini, Soni terlihat sambil menjadi driver online. Dia terlihat mengambil order saat malam hari, saat seharusnya istirahat bekerja. Well done, Soni! Semangatmu luar biasa! Pasti demi membuat anaknya mas Broto lebih bahagia kan? Hehe…

Sama seperti Amri, Soni juga tidak sampai selesai dalam proyek bersamaku. Soni pamit pergi ke Jakarta untuk mengejar mimpinya. Heee… maksudku ada kerjaan di sana.

Itulah mereka yang kusebut keluarga para ahli. Urusan pekerjaan? Aku puas dengan hasil kerjaan mereka. Rapi, bersih dan sesuai keinginanku. Sangat profesional namun juga sangat fleksibel. Tidak banyak aturan yang harus aku sepakati dalam proyek. Tidak perlu harus membuat kontrak ini itu yang mengikat. Semua berjalan nyaman dan kekeluargaan.

Aku suka melihat mereka bekerja. Masing-masing seperti sudah tahu akan porsi kerjaan dan apa yang harus dikerjakan. Setiap harinya seperti mengalir begitu saja. Tidak terlalu banyak proses diskusi atau berhenti. Semua sudah paham dengan kerjaan dengan keahliannya masing-masing.

Boleh aku bilang; tim mereka ini sudah solid dan sudah saling mengerti. Tentunya karena masing-masing sudah ahli dan yang terpenting adalah mereka saling percaya.

Sebuah tim yang solid bukan sekedar kumpulan orang-orang yang ahli, tetapi juga kumpulan orang-orang yang bisa saling percaya.

Selain menjadi ahli bangunan, mereka juga para pemancing! Setiap hari, setiap malam mereka selalu pergi mancing! Kecuali mas Broto, Birin yang selalu nglaju dan Soni yang sesekali cari order online. Sepulang mancing biasanya mereka membagi hasil pancingannya pada kami. Jadi selama beberapa bulan ini, menurutku mereka adalah orang yang paling sering makan ikan! Tiap hari mancing, tiap hari dapat ikan! dan tidak akan takut ditenggelamkan Bu Susi!

Alhamdulillah aku bersyukur bertemu mereka, keluarga para ahli. Orang-orang yang memudahkan salah satu mimpiku. Orang-orang yang membantu mewujudkan keinginanku dalam segala keterbatasanku. Disaat aku sedang kebingungan mencari para ahli, semesta mempertemukanku dengan mereka.

Terima kasih gaes, semoga kita jumpa lagi dalam suasana yang baik. Sehat-sehat semua!

Write a Comment

Comment