Tahi Lalat

Punya tahi lalat kan? Sepertinya semua orang punya ya, entah di mana posisinya atau besar kecilnya.

Aku mau cerita soal tahi lalat yang ada di tubuhku. Aku punya tahi lalat yang cukup besar di wajah, di atas bibir sebelah kiri. Ukurannya kira-kira selingkar ujung jari kelingkingmu. Ukuran yang menurutku besar untuk sebuah tanda tubuh di wajah, ya bisa disebut tompel. Aku ngga tahu perbedaan keduanya dan kenapa dibedakan, ah mungkin hanya soal penyebuatannya saja ya.

Waktu aku kecil, jelas ukurannya lebih kecil, lalu membesar seiring tubuh yang juga membesar. Sebenarnya ada tahi lalat lainnya di wajah, ukuran lebih kecil tersebar di beberapa tempat seperti hidung dan pipi.

Punya tahi lalat di wajah ini sering membuatku kurang percaya diri, minder dan malu. Terutama jika harus tampil di depan umum, masuk ke lingkungan baru atau bertemu orang baru.

Kadang aku suka memperhatikan mereka-mereka yang baru saja melihatku. Tidak sedikit yang melihatku dengan terkejut. Tidak sedikit pula melihatku dengan cekikikan, tertawa kecil bersama temannya. Terkadang aku merasa mereka menertawakanku. Picik banget ya pikiranku, tapi itulah yang aku rasakan.

Aku pernah berkarir menjadi seorang pengajar. Saat menimba ilmu di sebuah kampus swasta, aku memberanikan diri untuk menjadi pekerja yang membantu mengajar di kampus tersebut. Alasannya jelas! ingin menambah uang saku dan mencari pengalaman ( bisa dibaca cari ilmu ).

Setiap kali mulai mengajar di kelas, terutama pertemuan pertama. Aku selalu memperhatikan semua wajah-wajah di sana. Aku sering menebak ekspresi mereka. Aku menyadari diantara mereka ada yang melihatku dengan sedikit lucu dan tertawa bersama rekan di sebelahnya. Entah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana sih, yang jelas itulah yang aku rasakan.

Jauh sebelum itu aku sudah sering mendapat panggilan si tompel, si tahi lalat dan lainnya. Entah dengan gaya celaan ataupun gurauan. Kadang mereka menunjuk-nunjuk atas bibir mereka, hanya untuk menggambarkan tahi lalat di wajahku. Haha that’s funny, right?

Aku tidak mendendam soal celaan itu. Aku paham itu tidak akan mengubah apapun dari kondisi ini. Aku hanya menyimpannya, mendiamkannya begitu saja. Bohong banget ya nggak mendendam, sampai sekarang sering jadi kegelisahan hehe.

Pernah berantem soal itu nggak? Aku jawab tidak. Kalau ece-ecean mungkin iya, tapi kalau sampai pukul-pukulan nggak lah. Aku nggak berani berantem, badan kurus kering gini.

Dulu ada teman yang namanya hampir mirip denganku, namanya Adit, sementara namaku ada R nya. Aku dipanggil Ardhit ketika sekolah. Kalau panggilan saat kuliah sudah beda lagi. Untuk membedakan kami berdua, beberapa orang menyebutku dengan Adit Tompel. Padahal jelas beda ya, yang satu Adit, yang satunya Ardhit. Ya begitulah hehe. Entah itu termasuk bullying atau semacam sebuah hal wajar dalam proses kehidupan? entahlah ya, yang jelas itulah yang aku rasakan.

Namun ada hal yang membuat semuanya baik-baik saja. Punya tahi lalat di wajah menjadi penanda tebaik yang aku miliki. Entah kerabat, keluarga atau teman yang baru jumpa akan sangat mudah mengenaliku dengan tanda ini.

Suatu hari aku mengunjungi tempat tinggal masa kecil. Mungkin sudah lebih dari 25 tahun tidak menjumpai orang-orang di sini. Ketika aku berkunjung ke sana, tidak perlu banyak hal dijelaskan untuk kembali mengingatku. Mereka langsung mengenalku sesaat setelah melihat wajahku. “Wah…andeng-andenge tambah gede ya mas” ( Tahi lalatnya tambah besar ya ). hehehe… That’s the good one, right?

Punya tahi lalat di wajah ini kadang membuat aku sangat malu bertemu orang baru. Kadang suka ingin menutupi tapi tidak tahu juga harus bagaimana. Aku hanya tidak mau melihat ekspresi orang lain ketika pertama bertemu denganku, kadang suka merasa tidak percaya diri.

Perasaan macam itu kadang menjadi cambuk bagiku untuk melakukan hal hebat di depan semua orang. Kadang ada perasaan ingin menutupi kekurangan yang aku rasakan dengan kelebihan lainnya.

Tapi aku menyadari, aku tidak bisa membuat semua orang seperti apa yang aku inginkan. Tidak semua orang akan seperti dalam pikiranku dan aku tidak perlu memaksakan hal itu.

Jadi inilah aku. Salah satu warna dalam hidupku, keresahan pada masa-masa itu. Mungkin di luar sana ada yang merasakan sama denganku. Semoga mereka dapat terus berjalan maju dengan percaya diri tanpa harus merasa memiliki kekurangan diri.

Akhir tulisan, untuk mereka yang pernah bersinggungan denganku ayook nyanyi…:

Dimanapun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku
Dan banyak kenangan indah
Kau melukis aku

– Monokrom –

Selesai


Also published on Medium.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *