Semenjak Menggunakan Masker

Banyak hal telah berubah semenjak pandemi. Tidak hanya soal kebiasaan, tapi juga cara berinteraksi manusia-pun berubah. Salah satu yang ingin saya bahas di tulisan ini adalah mengenai hal apa saja yang berubah setelah ter(di)biasakan menggunakan masker. Bagi yang punya hak istimewa bekerja dari rumah mungkin tidak akan merasakan hal-hal ini. Tapi bagi yang harus work from office ada hal yang berubah setelah kebiasaan baru ini.

Yuk kita mulai, jadi apa saja yang berubah semenjak menggunakan masker?

Bicara jadi harus lebih keras. Iya, semenjak pakai masker gini, kita jadi harus ngomong lebih keras, apalagi saat berada di lingkungan yang sedikit bising. Suara yang kita keluarkan seakan-akan teredam oleh hadirnya masker di depan mulut. Seperti pistol yang pakai peredam itu lho, ngga ada bunyi tiba-tiba musuhnya mati.

Saya pernah mampir ke sebuah warung elektronik di pinggir jalan. Saya terpaksa bicara lebih keras dan mengulangi percakapan yang sama saat bicara pada cicik penjaga toko.

Saya : “Cik, beli lampu LED, Cik”.

Cicik : “Hah ?? apa mas?”

Susah bernafas. Sudah cukup jelas ya, karena masker ini bertujuan untuk mencegah virus masuk ke tubuh melalui mulut atau hidung, maka penggunaannya pun memang harus menutupi kedua organ tersebut. Berbeda dengan masker yang sering kamu oleskan ke pipimu agar tampak mulus itu lho. #eh

Karena kita bernafas melalui kedua organ itu, maka jelas dong membuat susah bernafas, terlebih kalau pakai masker yang tebalnya tiga lapis. Kecuali kamu yang bernafas melalui ingsang atau pori-pori kulit lho.

Saat awal-awal meggunakan masker, saya cukup sering tiba-tiba merasa sesak nafas, bahkan sampai lewah pikir; apakah ini tanda-tanda covid?

Menebak Ekspresi. Walaupun mata itu berbicara, namun melihat ekspresi lawan bicara itu juga cukup penting. Terkadang ada rasa ingin tahu bagaimana sih ekspresi dari lawan bicara, terutama ketika sedang asik berbagi cerita.

Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana ekspresimu. Walaupun matamu selalu berbicara padaku. #hasyyeek

Fokus pada Mata. Semenjak pada pakai masker kadang saya lebih fokus memperhatikan mata dari lawan bicara. Kalau dulu mungkin secara keseluruhan wajah, tapi sekarang fokus pada matamu! *kedip-kedip*.

Berekspresi Uwu-uwu. Setelah susah menebak ekspresi wajahmu, sekarang kamu sendiri ngga bisa lagi berekspresi yang uwu-uwu kepada lawan bicaramu. Misalnya nih, kamu mau melet-melet atau bibir mecucu atau gigit-gigit bibir ngga akan terlihat lagi sama lawan bicaramu. hihihi.

Merasa Hangat. Semenjak menggunakan masker saya merasa lebih hangat, seperti saat pakai buff gitu, entah ini hanya sugesti atau bagaimana, yang jelas itu terasa hangat. Mungkin karena abab nya dari mulut itu yang membuat hangat kali ya haha.

Berbisik. Setelah semua orang menggunakan masker, salah satu cara komunikasi yang berkurang adalah berbisik. Kita jasi ngga bisa lagi ngomong pelan bisik-bisik gitu. Kecuali kita saling berdekatan atau kalau mau bisik-bisik dan menggunakan bahasa bibir kita harus buka masker dulu.

Embun Kacamata. Nah ini cerita dari kawan yang menggunakan kacamata. Katanya semenjak menggunakan masker jadi lebih sering membersihkan kacamata karena lebih sering berembun. Sela-sela masker pada bagian atas menimbulkan embun yang menerpa kacamata sehingga mengganggu penglihatan.

Terasa Aneh Tanpa Masker. Sering kali kita merasa ada yang kurang ketika ketinggalan benda yang sering dipakai atau dibawa, seperti gawai, jam tangan atau dompet. Nah hal ini juga terjadi pada kita yang mulai terbiasa menggunakan masker. Kadang ketika keluar rumah tanpa masker, rasanya gimana gitu, berasa ada yang kurang. Ya ngga? Ya ngga?

Lipstik. Mungkin karena sekarang sudah sering dan harus pakai masker, para wanita tidak lagi memperhatikan penggunaan lipstik. Karena toh tidak sering terlihat, hehe iya ngga sih? atau justru malah pilih lipstik yang tidak mudah lembab atau kering? ah aku ngga tahu soal ini.

Belanja Masker. Siapa yang menyangka kini masker masuk dalam daftar belanja. Bagi yang lebih nyaman menggunakan masker medis, maka mau tidak mau barang ini masuk dalam daftar belanja bulanan. Atau bagi yang sudah berifikir membeli masker yang stylist maka tentu harganya pun tidak murah dong ya.

Kalau udah masuk dalam daftar belanja gini, jelas dong hubungannya kemana. Yap, tentang alokasi anggaran belanja bulanan.

***

Hmm kira-kira apa lagi ya yang berubah semenjak menggunakan masker? Apa ya, apa ya. Yang jelas walaupun agak ribet, tetaplah pakai masker ya, untuk melindungi dirimu dan orang disekitarmu.

Agar kita semua sehat dan I Love You *lho ngga nyambung, golok!*

Eh eh eh….walaupun kita harus selalu menggunakan masker, jangan lupa untuk selalu gosok gigi ya hehe….

Ada yang mau menambahkan? silakan isi kolom komentar ya *gaya banget kayak ada yang baca tulisan ini aja* hahaha

See yaa ditulisan random selanjutnya 🙂


Also published on Medium.

9 Comments

·

Leave a Reply

  1. Saya sudah dari dulu terbiasa pakai masker kalau ke luar rumah mas, cuma bedanya dulu kalau masuk ruangan pasti dibuka, nah kalau sekarang, mau di dalam atau luar ruangan, nggak pernah dilepas hehe.

    By the way soal lipstik, saya pribadi meski pakai masker era Corona, tetap pakai lipstik saat ke luar rumah though saya lumayan jarang ke luar 😂 Alasannya, meski pakai lipstik nggak ada yang lihat, tetap dipakai untuk kepuasan personal. Hahaha. Entah kenapa rasanya kurang komplit kalau ke luar tanpa lipstik dan perlenongan lainnya ðŸĪŠ

    Ps: tulisan mas Ardhy selalu seru untuk dibaca, keep writing, mas! 😁

    • Waaaa mbak Eno buka suara soal lipstik. Jujur saat nulis bagian itu saya tidak benar-benar punya refernsi soal itu hehehe…

      Terima kasih sudah membaca tulisan random gini ya.

  2. sejak sebelum pandemi udah biasa pake masker sih, minimal pas berangkat/pulang kerja cuma sejak pandemi jadi lebih intens aja pemakaiannya

    salah satu yang kadang jadi rada “awkward” ya kalau ketemu tetangga atau orang yang dikenal pas motoran, mau senyum juga orangnya gak lihat hahaha

  3. Nah iyaaa Mas Ardhi, abis liat teman yg maskne saya kira dia berlebihan karena nyalahin masker, eh beberapa hari kemudian saya juga kena maskne alias masker acne di bawah mulut.

    Saya jadi menyalahkan masker nih karena biasanya hanya jerawatan saat mau mens aja, lah ini setelahnya. Alhasil, nyuci rasanya kudu lebih keras nih kucek kuceknya.

    Beli masker biar anak harus selalu dilema nih, ada yg gmbr nya bagus tp nggak 3 lapis, ada yg tiga lapis tp modelnya biasa aja malah ga ada gambarnya. Hihi

    • Wogh ternyata benar-benar ada istilah “Maskne” ya *habis googling*. waaa baru tahu nih. Terima kasih infonya kak Ghina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *