Bersikap Tenang dan Tidak berbuat apa-apa adalah dua hal yang berbeda.

Pak Han dalam film the karate kids

Kadang diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam agar menjadi lebih tenang, agar lebih sabar atau agar lebih baik dalam mengambil tindakan.

Diam menahan rasa, mungkin itu adalah yang terbaik.


Bersama yang tersayang, tadi malam nonton film ini untuk kesekian kalinya, dan baru tadi malam juga menyadari ada sebuah pesan dari Pak Han.

Sebelumnya, kami (saya) ini adalah orang yang sebenarnya jarang sekali tampil di depan publik. Kami orang yang terbiasa dibalik layar komputer, namun kebetulan punya kesenangan yang sedikit sama, yakni bermusik.

Adalah ibu direktur yang secara tiba-tiba meminta kami untuk tampil akustikan di acara beliau. Mak deg tentunya dong. Kami yang tidak pernah main bersama langsung ditodong untuk main akustikan dalam sebuah acara. Padahal kalau saya gitaran saja jarang banget memainkan sebuah lagu secara lengkap dan sampai selesai.

Parahnya kami hanya punya waktu dua hari. Hari ini adalah Rabu, sementara harus tampil pada hari Jum’at.

Ya tapi tapi tapi mau gimana lagi, ini perintah atasan dan mau tak mau ya harus maju. Dengan berbekal sedikit keyakinan kami memulai latihan Rabu malam di rumah salah satu kolega yang super duper berbakat, serba bisa dan punya kelengkapan alat yang lebih dari cukup untuk kebutuhan perform.

Continue reading

Akhir-akhir ini Jogja sedang dirundung gelombang pesepeda. Muncul banyak sekali pelaku sepeda dimana-mana. Semua kalangan beramai ramai beraktivitas sepeda. Bahkan rewang yang membantu saya di rumah saja sudah mulai ikut kegiatan ini.

Karena pesatnya pertumbuhan pesepeda hingga akhirnya menimbulkan banyak pemberitaan yang semakin gencar juga. Seperti biasa, sesuatu yang baru dan booming pasti akan menimbulkan sedikit polemik sebagai bumbu gayeng kalau ngobrol di cakruk atau mention”an di Twitter.

Menurut saya, fenomena ini muncul karena rasa yang sama. Disaat semua kegiatan olahraga banyak yang lockdown, banyak yang mulai bosan karena kurangnya aktivitas di luar rumah, maka membuat individu secara naluri akan mencari sesuatu yang baru.

Continue reading

Bagi yang resah gelisah,

Bagi yang rapuh terkoyak dunia,

Bagi yang tak henti melawan dunia dan cemas,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang merasa sendiri,

yang harus kehilangan,

dan bahkan yang baru saja memiliki,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang belajar baik,

yang belajar memahami,

dan yang belajar mengerti,

Apa rencana mu, Tuhan?


Bagi yang masih berharap,

yang masih merindukan,

dan yang masih membutuhkan,

Apa rencana mu, Tuhan?


Kita selalu berusaha berkomunikasi dan meminta Tuhan mendengar, tapi justru terkadang kita tidak sadar bahwa Tuhan sering mencoba berkomunikasi dengan kita”, melalui banyak pertanda, melalui banyak kesempatan, peluang dan melalui banyak hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Kita terlampau sibuk meminta dan bertanya,

Tuhan, apa rencanamu? bagi saya yang seperti ini,…

Jika ada kurir mengantar paket ke rumahmu. Cobalah sesekali balas mereka dengan memberi sebotol minuman sebagai pelepas lelah.

Niscaya syukurmu bertambah.

***

Melakukan kebaikan memang tidak harus diumbar. Namun menularkan kebaikan adalah kebaikan yang baik.

Terima kasih kamu, yang telah memberi sebuah pelajaran hari itu.

Kok ada ya yang buka jasa macam ini? Dan herannya, ternyata banyak juga yang membutuhkan jasa ini!

Akhir akhir ini memang saya banyak melihat soal literasi di linimasa. Ialah Zarry Hendrik, CEO dari kapitulis ini sering membagikan info perihal banyak yang menggunakan jasa rangkai kata. Lalu membuat saya kepo tentang ini itunya.

Kok bisa ya? Saya masih heran juga. Tapi ternyata memang merangkai kata itu tidaklah mudah. Misal, untuk menulis sebuah caption pada unggahan media Instagram saja, masih banyak yang kebingungan. Terkadang akhirnya hanya menulis no caption, vitamin sea atau apalah ngga jelas gitu yang dianggap cukup, misal.

Continue reading

Setelah kemarin sharing tentang tulisan “Kenapa Berteriak Ketika Marah?” Ada sebuah pertanyaan lewat private message yang cukup menarik buat dibahas, yakni “Kalau yang marahnya diam, bagaimana dong ?”

Cukup menarik, karena saya yakin untuk yang pernah melewati fase pacaran atau temenan deket, pasti pernah merasakan ini. Merasakan yang namanya konflik tapi diam-diam an atau malah cuek-cuekan.

Jika di tulisan sebelumnya dibahas bahwa kenapa orang berteriak saat marah? Karena hati mereka sebenarnya sedang saling menjauh, jadi mereka merasa harus berteriak dengan maksud pesannya tersampaikan.

Dalam tulisan ini saya tidak mau bahas tentang “yang marahnya diam” lebih dulu, tapi saya mau bahas; “yang diam ketika marah”.

Ada beberapa sudut pandang, asumsi menurut saya;

Alasan diam ketika marah, yakni mengambil waktu untuk menunda emosi, meredam konflik.

Diam untuk menyiapkan waktu dan tenaga menyelesaikan konflik pada saat dan cara yang tepat.

Diam untuk memberi ruang pada diri sendiri dan lawan marah untuk lebih tenang.

Diam disaat marah untuk memberikan waktu pada hati masing-masing untuk saling mendekat.

Yang parah adalah “Diam karena hati mereka sudah terpisah terlampau jauh, bahkan berteriak pun tidak membuat pesan marahnya tersampaikan, yang pada akhirnya memilih untuk diam.”

Yang jelas menurut saya, diam adalah salah satu cara yang baik untuk meredam amarah jika sedang berkonflik. Selain itu, saat marah ada baiknya kita duduk atau berbaring, bisa juga dengan mengambil minum dulu agar lebih tenang, bahkan pergi dulu saja dari lokasi konflik.

Hanya saja, terkadang yang kurang baik adalah “sudah diam tapi malah semakin memperdalam rasa marah, justru terjebak perasaan amarah.”

Sudah diam, tapi bukan untuk mencari solusi, malah kusut sendiri. Nah ini yang sebaiknya dihindari, cepat-cepat diselesaikan saja masalahnya kalau sudah begini.

***

Bagaimana dengan yang marahnya hanya diam aja?

Kalau pasanganmu modelnya gini, berarti Anda termasuk orang yang mau repot sekali, maunya diperhatikan tapi ngga mau diskusi.

Padahal setiap konflik, hanya bisa diselesaikan dengan mencari solusinya, walaupun mungkin solusinya adalah didiamkan saja.

dan konon katanya; sebenarnya masalah tidak pernah benar-benar ada, masalah ada karena kita belum memilih atau menentukan solusinya. Ya iyalah, seluruh dunia juga tahu itu! Hehe

Kalau menurut saya begitu, bagaimana menurutmu?

***

Sudah jam 02:20, sekian! Mari merem lagi.

Ditulis setelah kebetulan sekali @kapitulis juga membahas tentang treatment ketika terjadi konflik. Silakan skrol-skrol di sini

Oh ya satu pesan lagi : Janganlah kamu marah, maka Surga bagimu.

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya, “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”

Salah satu murid menjawab, “Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak.”

“Tapi, mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya? bukankah pesan yang ia sampaikan, bisa ia ucapkan dengan cara halus?” Tanya Sang Syeikh sambil menguji murid-muridnya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya Sang Syeikh berkata, “Bila dua orang sedang marah, hati mereka saling menjauh, untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar.”

“Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya, sebab jarak kedua hati semakin jauh.”

“Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta?” lanjut Sang Syeikh.

“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang lain, mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan, jarak antara kedua hati sangat dekat.”

“Bila mereka semakin saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara, mereka hanya berbisik dan mereka saling mendekat dalam kasih-sayang.”

“Pada akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik, mereka cukup hanya dengan saling memandang, sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut, “Jika terjadi pertengkaran di antara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh.”

“Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh, karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan bisa lagi ditempuh.” (Anonymous)

***

Sebuah kisah disampaikan oleh Muzammil Hasballah.

Akhir-akhir ini cukup sering berdiskusi tentang berkarya bersama kawan. Sepertinya kami sedang berada pada masa yang sama.

Dalam diskusi, kita seperti ingin membuat karya tapi pada saat yang bersamaan juga mengalami kebingungan karya yang bagaimana. Ingin membuat ini, ingin membuat itu tapi malah tidak dikerjakan semuanya.

Bagi saya sendiri ini adalah waktu di mana juga mengalami kebuntuan untuk membuat sesuatu. Sudah hampir tiga bulan belakangan ini tidak menelurkan sesuatu, tidak menciptakan sesuatu dari sebuah kesenangan yang biasa saya lakukan.

Terakhir berkarya apa ya? PetaArt, Alquran-Indonesia.id dan beberapa bot. Selain itu pun akhir akhir ini jarang melakukan maintenance terhadap aplikasi di akun Androlite, padahal ada puluhan app yang dulu pernah tercipta di sana.

Ayo kapan lagi membuat sesuatu? Membuat aplikasi? Kapan membuat website lagi? Kapan membuat video? Akun YouTube ini potensial tapi kenapa tidak mulai membuat? Lalu, kapan kamu mau merawat aplikasi-aplikasi mu yang sudah berjalan selama ini?

Hufh… Saya seperti masuk pada sindrom di mana keresahan, kemalasan tercampur dengan kelelahan. Yang akhirnya membuat produktivitas pun merosot.

Tapi kadang saya berfikir juga, mungkin ini saatnya beristirahat, setelah beberapa tahun terakhir belakang ini sangat mempeng membuat sesuatu.

Mungkin ini saat di mana saya perlu kembali melihat ke sisi lainnya, melihat sesuatu yang lain lalu kemudian kembali lagi untuk berkarya ketika semua sudah sesuai porsi nya.

Memang terkadang kita menginginkan banyak hal, ingin ini itu dalam satu waktu, Namun pada akhirnya kita juga tidak bisa memiliki semua hal itu. Kita harus memilih beberapa dari banyak itu untuk mulai dikerjakan satu per satu. Kalaupun pada akhirnya akan melakukan semuanya, pastilah itu perlu waktu dan proses yang tidak singkat.

Inilah saat di mana saya atau mungkin juga kalian sedang berusaha memecahkan kebuntuan. Memilih dari banyak keinginan, dan berfokus mengerjakan satu per satu.

“Kita tidak bisa menyelesaikan semua bersamaan dan sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan sesuai porsinya, satu per satu tentunya.”

Semoga tak lama lagi ada karya yang kita buat. dan jika itu sudah terjadi, maka nikmatilah prosesnya, karena itu bagian yang sangat menyenangkan.

Saya selalu percaya bahwa komitmen dan konsistensi selalu memberikan hasil yang baik ketika kita benar-benar membuat karya.

Selamat memecahkan kebuntuan, menemukan impian.

Sekian dan salam olahraga!

Yogyakarta, 6 Juni 2020. 06:15 WIB

Saya yang masih bingung