Menempa Mental di Sosial Media

Instagram ranked worst for young people’s mental health

Belum lama ini RSPH (Royal Society for Public Health) membuat riset tentang pengaruh sosial media terhadap kesehatan mental penggunanya. Berdasarkan riset tersebut mereka membeberkan hasil berikut :

  1. YouTube ( Most positive )
  2. Twitter
  3. Facebook
  4. Snapchat
  5. Instagram ( Most Negative )

Instagram menjadi yang paling negative dan YouTube menjadi yang paling positive. Kenapa bisa begitu?

Kenapa Instagram jadi yang ter negative terhadap pengaruh mental? Hasil riset ini ada benarnya, menurut mereka Content yang beredar di Instagram ini cenderung berisi gaya hidup atau kegiatan keseharian para penggunanya. Hal ini dinilai dapat merangsang pola pikir pengguna lainnya.

Dalam sebuah contoh, ada dua pengguna yaitu Toro dan Bagio. Toro seorang yang suka traveling, kuliner dan punya kekasih. Bagio adalah seorang yang jarang traveling dan menderita jomblo. Keduanya sama-sama rajin menngunggah content secara rutin.

Secara mental, Bagio dipercaya akan terganggu karena selalu melihat aktivitas Toro yang mungkin tidak bisa dilakukannya. Minimal doi akan merasa ingin seperti Toro atau juga malah sedikit iri.

Namun ternyata, bukan hanya Bagio yang akan terpengaruh, Toro pun juga dapat terpengaruh secara mental. Karena terbiasa berbagi content yang wah-wah, maka bisa jadi menimbulkan perubahan mental dengan sedikit rasa sombong, walaupun sih niat dia adalah berbagi. Tapi perlu disadari bahwa perbedaan antara berbagi dan sombong itu sangatlah tipis.

Hal-hal di atas itu bisa sangat berpengaruh pada pengguna yang masih mencari jati diri. Bayangkan kalau penggunanya itu anak abg labil yang sedikit-dikit baper, mereka bisa jadi akan saling sikut satu sama lain, saling berlomba untuk mengunggah content hanya untuk saling bersaing. Syukur kalau konten yang bagus, bagaimana kalau yang buruk? Duhh mental anak bangsa bisa rusak gaess..ciyeeh

Teman kita tentu banyak, dan sudah pasti berbeda-beda, tidak semua seperti Anda dan Andapun tidak bisa memaksa orang untuk sama. Walaupun biasanya ada kesamaan dalam komunitas, namun itu tak menjamin untuk tidak ada beda. Coba tengok group pecinta fotografi misalnya, tidak semua sama kok, di dalamnya juga ada saling sindir dan sainganpun juga pasti ada. Namanya juga manusia. Iya tho?

Oleh sebab itu ternyata Sosial Media sekarang ini juga bisa sebagai tempat menempa mental. Bisa menjadikan mental kita lebih baik atau justru larut dalam kerusakan mental. Sikap menerima, menghargai dan selalu berfikir positive adalah menjadi pilihan terbaik untuk beraktivitas di sosial media, setuju?

Dan tentunya jangan terlalu serius di sosial media, semua itu hanya fatamorgana. Iya tho? Namun buat kamu yang gampang spaneng, mending pilih-pilihlah teman di sosial media yang sesuai denganmu saja, dari pada mentalmu terganggu.

Kalau mau aman sih buka YouTube saja, menurut survey, sosial media ini paling positif dalam mempengaruhi mental penggunanya. Kalau menurur saya sih ini karena fitur suggestion nya yang menarik. Tapi siapa bilang positive terus itu baik? Pasti ada dampak buruknya, besok kita bahas ditulisan selanjutnya.

Yang jelas menurut saya memang perlu kedewasaan dalam berinteraksi baik secara dunia nyata dan dunia maya. Semoga semakin sering kita bersosial media justru akan memperkuat mental dan bukan sebaliknya. Semoga semakin sering melihat konten milik orang lain, maka menambah pengetahuan dan pembelajaran bagi kita.

Selamat menempa mental dan ingat! Jangan terlalu serius! Tulisan ini hanya ngawur saja.


Also published on Medium.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.